Menelusuri Jejak Gurita Maya dan Praktik Lestari di Yucatán

Perjalanan di perairan Yucatán mempertemukan para pelancong dengan Limberth Orlando Alcocer Diaz, seorang kapten kapal berusia 55 tahun yang telah mencari ikan sejak usia delapan tahun. Bersama chef Cesar A. Landeo dan konsultan perhotelan Karla Encisco, perjalanan ini bertujuan menelusuri sumber gurita maya yang disajikan di resor mewah Maroma, sebuah hotel Belmond.

Metode Unik Penangkapan Gurita

Kawasan pesisir Meksiko ini dikenal dengan pendekatan berkelanjutan dalam menangkap gurita maya menggunakan metode artisanal. Menurut laporan Condé Nast Traveler, teknik ini hanya mengandalkan dua bilah bambu panjang yang disebut jimbas, beberapa tali, serta umpan berupa kepiting atau lobster hidup. Cara tersebut telah digunakan secara komersial selama lima atau enam dekade dan didasarkan pada pemahaman mendalam mengenai siklus hidup hewan tersebut.

Gurita maya, yang dikenal dengan empat mata dan warna merah karang, memiliki rentang hidup sekitar satu tahun. Alcocer Diaz menjelaskan bahwa setelah bertelur di dalam gua, induk betina akan menjaga sarangnya tanpa makan hingga akhirnya mati setelah telur menetas. Sementara itu, gurita jantan hanya hidup selama satu musim kawin. Musim penangkapan gurita di wilayah ini dibatasi secara ketat mulai 1 Agustus hingga 15 Desember guna memastikan populasi hewan tersebut dapat bereproduksi.

Pemilihan alat pancing jimba juga berperan penting karena umpan yang digantung hanya akan menarik gurita jantan yang keluar untuk mencari makan, sementara betina tetap berada di sarang menjaga telur. Alcocer Diaz menggunakan teknik pembunuhan kilat dengan menusuk bagian di antara mata sebagai bentuk kematian otak yang instan, metode yang mirip dengan proses ikejime asal Jepang.

Peran Chef dan Jaringan Keberlanjutan

Kepedulian terhadap kelangsungan hidup gurita turut didorong oleh organisasi seperti Pesca Con Futuro yang menghubungkan para chef dengan kolektif perikanan berkelanjutan di seluruh Meksiko. Pendiri organisasi tersebut, Citlali Gomez Lepe, menyatakan bahwa konsumsi sangat memengaruhi cara produksi makanan. Melalui kolaborasi ini, para hotel dan restoran dapat memperoleh hasil laut yang bersumber dari praktik terbaik.

Encisco dan Landeo merupakan bagian dari para chef yang memanfaatkan jaringan Pesca Con Futuro untuk restoran tempat mereka bekerja. Encisco berpendapat bahwa para pekerja di industri perhotelan memiliki kesempatan besar untuk mengedukasi para tamu mengenai pentingnya memilih makanan laut musiman dan mengetahui asal-usul tangkapan tersebut.

Tantangan di Tengah Perubahan Iklim

Meskipun komitmen terhadap keberlanjutan terus digaungkan oleh para koperasi nelayan, berbagai tantangan masih menghantui perairan Yucatán. Para nelayan mengeluhkan tingginya permintaan teripang yang diekspor ke Tiongkok serta praktik ilegal oleh penyelam dari wilayah lain yang menggunakan bahan kimia untuk mengusir gurita dari tempat persembunyian mereka. Selain itu, dampak perubahan iklim turut membuat gurita bermigrasi ke tempat yang lebih dalam akibat suhu air laut yang kian menghangat.

Di akhir perjalanan, rombongan menikmati hidangan lokal berupa pulpo rojo di restoran portside El Perico Marinero, yang seluruh bahannya dibeli langsung dari koperasi nelayan setempat. Landeo berharap inisiatif Pesca Con Futuro dapat terus berkembang dan melibatkan lebih banyak hotel agar dunia perikanan tetap terjaga demi generasi mendatang.