Daftar Isi
Pemerintah Amerika Serikat telah mencabut lebih dari 300.000 visa sejak Presiden Donald Trump memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025, menurut Departemen Luar Negeri AS. Pada 1 November 2026, departemen tersebut membagikan rincian pembaruan pencabutan tersebut dan menyebut total angka itu sebagai yang tertinggi dalam sejarah Amerika di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, meskipun pejabat belum mengungkapkan jumlah pasti warga India yang terdampak.
Alasan Pencabutan dan Kebijakan Pemerintahan AS
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa peninjauan dilakukan untuk mengidentifikasi pemegang visa yang dinilai tidak lagi memenuhi persyaratan. Alasan utama pembatalan visa tersebut mencakup aktivitas kriminal, masalah keamanan publik, pelanggaran imigrasi, penipuan, misrepresentasi, serta informasi lain yang menunjukkan ketidaklayakan individu.
Pengumuman tersebut disampaikan melalui akun resmi X departemen pada 1 November 2026, yang menegaskan kembali bahwa pemegang visa harus terus memenuhi persyaratan imigrasi bahkan setelah dokumen diterbitkan. Selain itu, departemen melaporkan pencabutan lebih dari 4.000 visa yang berkaitan dengan pariwisata kelahiran, di mana lebih dari 700 di antaranya dipegang oleh warga negara Tiongkok. Pada September 2026, Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga mengumumkan kebijakan pembatasan visa yang menargetkan individu yang terlibat dalam pariwisata kelahiran komersial.
Peran Continuous Vetting Center
Biro Urusan Konsuler mendirikan Continuous Vetting Center di Washington, DC, pada tahun 2025, yang menurut Departemen Luar Negeri bertanggung jawab atas pencabutan lebih dari 23.000 visa. Pemrosesan berkelanjutan ini memungkinkan pihak berwenang meninjau pemegang visa setelah dokumen diterbitkan untuk menemukan informasi baru terkait perilaku kriminal, keamanan publik, atau kelayakan lanjutan. Artinya, persetujuan visa di masa lalu tidak menghalangi pihak berwenang melakukan peninjauan ulang di kemudian hari.
Dampak bagi Pelajar dan Pekerja India
Bagi pelajar India, pekerja H-1B, maupun pelancong tetap, pengumuman ini tidak berarti bahwa seluruh pemegang visa otomatis berada dalam risiko kehilangan dokumen mereka. Pelajar dengan visa F-1 diimbau untuk terus menghadiri kelas, menjaga status F-1, dan mematuhi aturan universitas, serta menghubungi pejabat sekolah resmi atau mencari nasihat imigrasi jika menerima pemberitahuan pencabutan.
Sementara itu, para pekerja H-1B diminta menjaga rincian pekerjaan dan dokumen imigrasi tetap mutakhir sesuai dengan ketentuan petisi yang disetujui. Kebijakan serupa berlaku bagi wisatawan dan pelancong bisnis untuk mematuhi kondisi visa serta menghindari masa tinggal yang melebihi batas.
Pihak berwenang juga menekankan bahwa hilangnya visa tidak otomatis berarti deportasi, karena visa dan status hukum di dalam negeri merupakan dua hal yang berbeda. Visa umumnya digunakan untuk meminta izin masuk, sementara masa tinggal yang sah ditentukan oleh klasifikasi imigrasi dan catatan kedatangan.
Langkah Pemeriksaan dan Tindakan Lanjut
Pemegang visa dapat memeriksa validitas dokumen dengan meninjau email dan pesan resmi dari kedutaan atau konsulat AS yang menerbitkan visa tersebut. Pengguna juga dapat memanfaatkan Pusat Aplikasi Elektronik Konsuler (CEAC) milik Departemen Luar Negeri AS untuk memeriksa status permohonan visa, meskipun alat ini bukan merupakan sarana universal untuk mengonfirmasi validitas setiap visa yang pernah diterbitkan.
Jika menerima pemberitahuan pencabutan, pemegang visa diminta untuk membaca pesan dengan cermat dan menghubungi kedutaan atau konsulat untuk mendapatkan informasi lanjutan mengenai opsi perjalanan. Penduduk yang sudah tinggal di AS disarankan berkonsultasi dengan pengacara imigrasi sebelum meninggalkan negara tersebut atau mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi status hukum mereka.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa pencabutan lebih dari 300.000 visa tersebut didasarkan pada aktivitas kriminal, pelanggaran imigrasi, penipuan, misrepresentasi, serta kekhawatiran keamanan publik di bawah pemerintahan Trump. Pelajar, pekerja, maupun pelancong yang berencana mengunjungi AS diimbau untuk memperbarui dokumen perjalanan dan memverifikasi informasi visa resmi sebelum memesan perjalanan melalui layanan seperti penawaran penerbangan internasional dari Travel Blog.








