Kunjungan ke sebuah pameran seni di Jakarta memberikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung yang hadir. Alih-alih sekadar menikmati keindahan visual, pameran seni rupa berbahan limbah ini justru memicu kesadaran dan perenungan mendalam tentang masalah lingkungan.
Pameran Tunggal Recycle Art
Seniman Intan Dewi Sukawangi menggelar pameran tunggal Recycle Art yang mengusung tema Merengkuh Luka Peradaban di Bentara Budaya Jakarta. Dalam pameran ini, ia memanfaatkan berbagai material bekas dan sampah seperti kemasan makanan, sendok plastik, botol minuman, hingga kawat bekas jemuran untuk diubah menjadi karya seni.
Sebanyak 29 karya dipamerkan dalam ajang tersebut, yang diwujudkan dalam bentuk patung satwa, rupa lukisan, serta instalasi seni. Pameran karya seni berbahan sampah plastik ini dijadwalkan berlangsung dari tanggal 23 Oktober hingga 13 November 2026, dan terbuka untuk umum setiap hari pukul 10.00 sampai 18.00 WIB.
Kritik Sosial dan Reaksi Pengunjung
Salah satu pengunjung asal Jakarta Utara bernama Beni, seperti dilaporkan detikTravel, mengaku tertarik pada salah satu karya berjudul Ikan Sapu-sapu Pemakan Koruptor. Menurutnya, karya tersebut berhasil membuka ruang bagi pengunjung untuk berpikir sekaligus membaca kritik terhadap perilaku manusia.
“Ikan sapu-sapu paling gong sih. Di habitatnya, ikan ini memiliki tugas untuk membersihkan lumut atau sisa-sisa makanan di perairan. Tapi di sini, ikan sapu-sapu dipamerkan untuk membersihkan sampah koruptor, unik juga dibuat pakai material sampah,” ujar Beni ketika dijumpai detikTravel pada Rabu (28/10).
Beni menambahkan bahwa pesan yang disampaikan pada karya tersebut membuatnya merasa sedih. Kehadiran tulisan “Semua Akibat Ulah Manusia” pada instalasi ikan sapu-sapu itu membuatnya merenungkan kembali bagaimana dampak buruk plastik merupakan hasil dari tindakan manusia sendiri.
Pengunjung lainnya, Silvi, yang datang bersama pasangannya, juga mengungkapkan kekagumannya terhadap rangkaian karya yang dipamerkan. Ia menilai pemanfaatan limbah menjadi karya seni bernilai tinggi ini dapat menjadi contoh positif bagi masyarakat luas agar tidak sekadar membuang sampah.
“Niatnya ke sini jalan-jalan, eh pas mau pulang malah banyak pikiran. Tapi keren banget, sampah diubah jadi karya luar biasa, ini menjadi nilai positif yang bisa ditiru oleh pengunjung. Limbah bukan cuma sekadar dibuang, tapi bisa dimanfaatkan lagi,” kata Silvi.








