Daftar Isi
Industri pariwisata Thailand diprediksi menghadapi tantangan berat sepanjang tahun 2026 dengan penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Tekanan ini dipicu oleh ketatnya persaingan dengan negara-negara Asia lainnya, gejolak geopolitik, serta kenaikan biaya perjalanan yang membebani sektor tersebut.
Penurunan Proyeksi Kunjungan Wisatawan
Presiden University of the Thai Chamber of Commerce (UTCC), Thanavath Phonvichai, menyatakan bahwa Thailand kini berada dalam periode sulit untuk bersaing dengan destinasi populer di kawasan Asia seperti Jepang, China, dan Vietnam. Seperti dilaporkan The Nation pada Kamis (5/11/2026), UTCC merevisi proyeksi jumlah kunjungan wisman menjadi 31,5 juta orang pada 2026.
Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 4,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan berada di bawah target awal yang sempat dipatok di angka 32 hingga 34 juta kunjungan. Realisasi kunjungan pada 2025 sendiri tercatat mendekati 33 juta orang.
Faktor Penyebab Penurunan
Berdasarkan survei UTCC terhadap 368 pelaku usaha pariwisata, sebanyak 63 persen responden menyatakan bahwa wisatawan mancanegara menyumbang setidaknya 25 persen dari pendapatan bisnis mereka. Ketika ditanya mengenai penyebab penurunan, 48,1 persen responden menunjuk faktor eksternal, termasuk ketegangan di Timur Tengah, perang, dan kondisi ekonomi global yang memicu kenaikan harga minyak.
Selain itu, 25,3 persen responden menyoroti kendala domestik seperti berkurangnya jumlah penerbangan, masalah keamanan, kebijakan visa yang tidak pasti, serta kendala di perbatasan. Sebanyak 21,7 persen responden lainnya menilai wisatawan mulai beralih ke negara pesaing yang menawarkan harga lebih kompetitif dan atraksi baru.
“Kondisi itu tidak bisa semata-mata disalahkan pada situasi global. Thailand juga perlu membenahi daya saing pariwisatanya,” ujar Thanavath.
Data Kunjungan dan Harapan Pemulihan
Direktur Institut Strategi Perdagangan UTCC, Wichian Kaewsombat, mencatat bahwa selama periode Januari hingga September 2026, Thailand menerima 23,20 juta wisman, turun 3,8 persen atau sekitar 916 ribu kunjungan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan paling signifikan terjadi pada September 2026 dengan angka merosot hingga 10,5 persen.
Dari lima pasar utama, hanya China yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 15,2 persen menjadi 3,94 juta kunjungan. Sebaliknya, pasar Korea Selatan turun 25,4 persen, Malaysia 15,2 persen, India 2,5 persen, dan Rusia 0,1 persen. Untuk memperbaiki situasi, 42 persen pelaku usaha mendesak pemerintah untuk menambah penerbangan langsung dan mempercepat proses pemeriksaan di perbatasan.
Meskipun menghadapi tekanan sepanjang 2026, UTCC memproyeksikan sektor pariwisata Thailand akan mulai pulih pada 2027 dengan target 34 juta kunjungan atau peningkatan 7,9 persen. Pendapatan dari wisman pada tahun tersebut diperkirakan mencapai 1,63 triliun baht atau sekitar Rp 878 triliun. Namun, proyeksi ini masih bergantung pada stabilitas harga energi global yang dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah.








