Menemukan Akar Budaya Lewat Mancing Salmon di Alaska

Perjalanan menyusuri perairan Southeast Alaska membawa seorang penulis keturunan Pribumi menemukan ikatan emosional dengan warisan leluhurnya melalui pengalaman memancing ikan salmon. Pengalaman ini menjadi bagian dari upaya mendalam untuk memahami identitas suku Tlingit di tanah leluhur yang kaya akan sejarah dan keindahan alam.

Kembali ke Tanah Leluhur

Satu dekade lalu, kepulangan ke tempat kelahiran di Ketchikan, Southeast Alaska, dilakukan untuk merajut kembali hubungan dengan darah Tlingit setelah baru mengetahui silsilah keluarga Pribumi tersebut. Tumbuh besar di Minnesota yang jauh dari kampung halaman suku membuat perasaan asing sempat menyelimuti diri. Namun, kunjungan-kunjungan berikutnya ke Alaska’s Inside Passage, khususnya aktivitas memancing, perlahan menghadirkan rasa memiliki yang sempat hilang.

Petualangan tersebut bermula dari penerbangan pesawat amfoni (floatplane) selama 45 menit dari Ketchikan melintasi Tongass National Forest, hutan hujan iklim sedang utuh terbesar di dunia. Perjalanan udara itu berakhir di dermaga pribadi Steamboat Bay Fishing Club yang terletak di Pulau Noyes yang terpencil. Resor mewah yang mengantongi sertifikasi keberlanjutan dari Alaska Green Adventure ini beroperasi sejak tahun 2013 dengan kapasitas maksimal 24 tamu.

Kearifan Lokal dan Budaya Salmon

Bagi Everett Athorp, seorang nelayan sekaligus seniman asal Haida-Tsimshian yang bertugas sebagai pemandu di Steamboat Bay sejak awal dibuka, keindahan alam di sana tidak pernah luntur. Pengalaman puluhan tahun miliknya berakar dari pengetahuan turun-temurun leluhur Pribumi. Athorp menuturkan kepada Condé Nast Traveler bahwa salmon memegang peranan yang sangat krusial bagi kebudayaan masyarakat adat di Alaska.

Di wilayah tersebut, memancing bukan sekadar hobi melainkan sarana bertahan hidup, khususnya bagi populasi pedesaan yang bergantung pada hasil buruan dan tangkapan liar. Komunitas Pribumi Alaska telah mengelola dan memanen salmon liar secara berkelanjutan selama ribuan tahun, lengkap dengan tradisi pendirian rumah asap dan kamp musim panas. Suku Tlingit sendiri memandang salmon sebagai makhluk sakral yang melambangkan kelimpahan, pembaruan, dan kehidupan.

Seni dan Pelestarian Tradisi

Selain memandu tur memancing, Athorp juga seorang pemahat ulung yang menghiasi pondok utama Steamboat Bay dengan berbagai karya seni bertema hewan dan salmon. Keterampilan ukir tersebut merupakan bentuk perlawanan dan pelestarian budaya yang dilanjutkan dari karya kakeknya, Jones Yeltatzie. Kakeknya terpaksa belajar metode seni secara otodidak setelah mengenyam pendidikan di sekolah asrama Mt. Edgecumbe di Sitka pada era 1940-an, sebuah institusi bentukan Biro Urusan India yang membatasi pelajar adat mempelajari budaya mereka.

Di atas kapal penjelajah kabin North River, prosesi memancing berjalan selaras dengan ritme alam di tengah hamparan perairan jernih dan tebing pesisir. Di antara momen melawan tarikan ikan king salmon berukuran belasan pon atau menyaksikan singa laut menyambar tangkapan, interaksi dengan sesama pemancing di kapal menciptakan kedekatan tersendiri. Di tengah perairan liar Alaska tersebut, tradisi leluhur suku Tlingit terasa hidup kembali dan memberikan ketenangan batin yang dicari.