Perubahan suasana hati secara drastis saat mengusap layar media sosial pada malam hari atau dini hari memiliki penjelasan ilmiah. Kondisi respons emosional kilat akibat paparan konten tersebut dikenal dengan istilah emotional contagion.
Penyebab Emosi Mudah Terpengaruh Konten
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, memaparkan fenomena tersebut melalui akun Instagram pribadinya pada Selasa (3/11/2026), seperti dilaporkan Okezone. Ia menyampaikan bahwa fluktuasi emosi yang terjadi dalam hitungan detik saat menyaksikan konten digital disebabkan oleh proses penularan emosi secara instan pada otak.
Aditya menjelaskan bahwa rancangan algoritma platform media sosial sengaja menyajikan rangkaian konten berdurasi singkat dengan intensitas emosional tinggi secara berturut-turut. Pada saat yang sama, area otak prefrontal cortex yang bertindak mengendalikan pertimbangan logis serta kontrol emosi telah mengalami kelelahan setelah beraktivitas seharian.
Kondisi daya tahan emosional yang melemah di malam hari tersebut membuat seseorang menjadi jauh lebih sensitif. Hal ini mengakibatkan pengguna media sosial lebih mudah larut dan terbawa oleh perasaan dari tayangan yang sedang dilihat.
Mekanisme Dopamin dan Ketidakpastian Konten
Selain memicu sensitivitas emosi, Aditya membeberkan faktor yang membuat seseorang sulit berhenti melakukan penjelajahan konten media sosial kendati emosinya terus berganti. Fenomena ini dipicu oleh sistem intermittent rewards dan lonjakan hormon dopamin dari kebiasaan menyaksikan video pendek.
Sensasi penasaran yang timbul saat mengusap layar menjadi pemicu utama timbulnya hormon tersebut. “Jadi setiap kali kamu mengusap layar ke atas, otak kamu tidak pernah tahu konten apa yang akan muncul berikutnya. Apakah lucu, sedih, menarik. Nah, ketidakpastian inilah yang memicu pelepasan dopamin,” kata dr. Aditya.







