Akomodasi & Hotel

Strategi Keberlanjutan Accor Hubungkan Kinerja Hotel

Strategi Keberlanjutan Accor Hubungkan Kinerja Hotel
Daftar Isi
  1. Menghubungkan Keberlanjutan dengan Kinerja Bisnis
  2. Penerapan di Jaringan Global dan Kasus Bisnis bagi Pemilik
  3. Pemberdayaan Talenta dan Dampak Komunitas

Isu keberlanjutan kini semakin terikat erat dengan kinerja hotel, mulai dari efisiensi biaya operasional hingga pengalaman tamu. Berdasarkan laporan Skift Research, akomodasi menjadi kategori perjalanan di mana wisatawan Amerika Serikat paling bersedia membayar lebih demi opsi yang ramah lingkungan.

Menghubungkan Keberlanjutan dengan Kinerja Bisnis

Bagi Accor, keberlanjutan bukanlah prioritas baru. Melanjutkan rekam jejak selama 40 tahun dalam komitmen lingkungan dan sosial, grup perhotelan ini memperkenalkan peta jalan keberlanjutan terbaru untuk periode 2026 hingga 2030 yang dinamai Hosting Change. Program ini menghubungkan isu keberlanjutan secara langsung dengan kinerja hotel di empat area utama, yaitu operasional masa depan, pengalaman tamu, talenta, dan ekosistem yang lebih luas.

Kepala Petugas Keberlanjutan Accor, Coline Pont, menyatakan bahwa peta jalan tersebut dirancang untuk membantu menjawab pertanyaan praktis terkait keputusan sehari-hari di hotel. Menurut Pont, seperti dilaporkan oleh Skift Studio, bisnis dan keberlanjutan bukanlah prioritas yang saling bersaing, melainkan saling memperkuat.

Program ini berfokus pada emisi karbon, limbah makanan, keberagaman dan inklusi, serta sertifikasi ramah lingkungan. Selain itu, terdapat empat inisiatif tambahan atau *Extra Miles* yang mencakup pengurangan energi, air, dan limbah, penyediaan makanan nabati yang menarik, pembukaan jalur pekerjaan, serta dukungan bagi individu yang terdampak kekerasan.

Penerapan di Jaringan Global dan Kasus Bisnis bagi Pemilik

Mengoperasikan lebih dari 5.800 hotel di 110 negara dengan portofolio lebih dari 45 merek, tantangan utama Accor adalah memastikan strategi tersebut dapat diterapkan di lapangan oleh pemilik dan pasar yang beragam. Setiap wilayah dan merek memiliki otonomi untuk fokus pada isu yang paling relevan di konteks lokal mereka.

Sebagai contoh penyesuaian di wilayah yang mengalami krisis air, Mövenpick Petra mengubah 90 persen kamar mereka dari bathtub menjadi pancuran mandi berdiri. Sementara itu, Raffles Bali membangun sistem air sumber ganda yang mengembalikan 97 persen air yang digunakan kembali ke tanah.

Pont menjelaskan bahwa para pemilik hotel menghadapi tekanan nyata seperti kenaikan biaya energi, klien korporat dengan target ESG tersendiri, dan investor yang memperhitungkan keberlanjutan ke dalam valuasi aset. Efisiensi sumber daya menjadi pilar penting, di mana energi dan sekitar 7 persen biaya operasional tahunan hotel disumbangkan oleh air. Pada tahun 2025, Accor mencatat penurunan intensitas air sebesar 5,2 persen.

Selain itu, lebih dari 73 persen klien korporat terbesar Accor mensyaratkan kriteria ESG saat memilih mitra hotel. Penghapusan plastik sekali pakai yang dimulai sejak 2019 juga menunjukkan bahwa penggantian fasilitas dapat dilakukan dengan lebih bijak tanpa menuai penolakan dari tamu.

Pemberdayaan Talenta dan Dampak Komunitas

Dalam industri yang digerakkan oleh manusia, Accor menempatkan fokus kuat pada tenaga kerja. Perusahaan memastikan setiap karyawan, yang disebut Heartist, bekerja di lingkungan yang aman, adil, dan bermartabat. Program School for Change yang digulirkan sejak 2022 melatih para karyawan untuk mengintegrasikan keberlanjutan dalam keputusan kerja sehari-hari.

Di luar operasional internal, Accor memastikan rantai pasoknya turut mendukung keberlanjutan. Sebanyak 98 persen pemasok yang dinominasikan telah tersertifikasi melalui EcoVadis, dan pada tahun 2025 Accor memenangkan penghargaan World Sustainable Travel and Hospitality Award untuk program dekarbonisasi rantai pasok.

Accor juga berkomitmen membuka jalur pekerjaan bagi masyarakat yang menghadapi hambatan melalui kemitraan dengan lembaga swadaya masyarakat. Perusahaan menargetkan sertifikasi 20.000 orang melalui program mobilitas sosial ini pada tahun 2030, serta berencana membuka pintu bagi 1.000 hotel untuk menampung korban kekerasan berbasis gender.

Pada bulan Desember 2026, Accor akan menjadi tuan rumah KTT World Sustainable Travel and Hospitality Alliance guna mempertemukan organisasi yang mewakili lebih dari 66.000 hotel. Melalui Program Inovasi Keberlanjutan, Accor menargetkan untuk menguji dan memperluas 100 solusi penghematan sumber daya pada tahun 2030 agar dapat dimanfaatkan oleh industri perhotelan secara lebih luas.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *