Daftar Isi
Prancis, Jerman, Italia, dan sejumlah negara kawasan Schengen lainnya masih menghadapi penundaan di perbatasan akibat tantangan sistem Entry/Exit System (EES) yang belum sepenuhnya stabil. Meskipun Uni Eropa telah resmi meluncurkan sistem tersebut, sembilan negara masih terus menyesuaikan prosedur imigrasi karena kendala teknis, kapasitas pemrosesan yang belum memadai, dan penumpukan penumpang di bandara.
Sembilan Negara Masih Menyesuaikan Pemeriksaan Biometrik
Sistem kontrol perbatasan biometrik di Eropa terus menghadapi tantangan operasional meski telah mencapai tonggak implementasi resminya. EES diperkenalkan secara bertahap mulai tanggal 12 Oktober 2025 dan mulai beroperasi penuh di 29 negara peserta Eropa pada tanggal 10 April 2026. Kendati demikian, penerapan tersebut belum sepenuhnya seragam di semua wilayah.
Prancis, Jerman, Italia, Yunani, Portugal, Belgia, Belanda, Malta, dan Swiss dilaporkan telah meminta fleksibilitas tambahan untuk mengatasi berbagai kendala di titik-titik perbatasan tertentu. Berbagai kendala ini mencakup masalah perangkat biometrik, kekurangan staf, kepadatan penumpang, serta fasilitas pemrosesan yang terbatas. Otoritas setempat wajib mengumpulkan dan memverifikasi informasi biometrik pelancong tanpa menimbulkan penundaan yang berlebihan.
Komisi Eropa telah mengakui bahwa sejumlah pos lintas batas masih memerlukan penyesuaian lanjutan. Negara-negara yang bersangkutan dilaporkan telah menerima fleksibilitas informal guna menangani permasalahan yang belum terselesaikan, sementara sistem biometrik itu sendiri tidak mengalami penangguhan secara nasional.
Dampak bagi Wisatawan Internasional
Persyaratan perbatasan biometrik yang baru ini telah menghadirkan prosedur tambahan bagi jutaan pengunjung internasional yang masuk maupun keluar dari kawasan Schengen di Eropa. Berdasarkan ketentuan EES, pelancong non-Eropa yang memenuhi syarat harus mendaftarkan informasi paspor, citra wajah, serta catatan sidik jari mereka secara elektronik.
Pendaftaran pertama kali dapat memakan waktu pemrosesan yang lebih lama dibandingkan pemeriksaan paspor konvensional karena petugas perbatasan harus membuat catatan biometrik baru. Kondisi ini membuat maskapai dan organisasi industri pariwisata memperingatkan potensi keterlambatan sambungan penerbangan serta antrean imigrasi yang lebih panjang. Namun, setelah pendaftaran awal berhasil, pelintasan berikutnya umumnya hanya memerlukan verifikasi terhadap data yang sudah ada.
Tantangan Tenggat Waktu dan Kesiapan Infrastruktur
Uni Eropa sebelumnya menerapkan EES melalui proses bertahap agar negara peserta memiliki waktu memasang perangkat, melatih personel, dan menyesuaikan prosedur perbatasan. Fleksibilitas transisional yang mengizinkan penangguhan pengumpulan biometrik saat terjadi kepadatan luar biasa akhirnya kedaluwarsa pada tanggal 6 September 2026.
Laporan yang diterbitkan setelah tenggat waktu tersebut menunjukkan bahwa sembilan negara Schengen masih memerlukan tambahan waktu untuk mengatasi kendala operasional. Situasi ini mencerminkan kompleksitas penerapan sistem perbatasan digital yang canggih secara bersamaan di banyak bandara, pelabuhan laut, dan darat. Komisi Eropa menyatakan niatnya untuk menyelesaikan tantangan operasional yang ada sebelum akhir tahun 2026.
Panduan bagi Pelancong Internasional
Pengunjung dari luar Uni Eropa disarankan untuk bersiap menghadapi pendaftaran biometrik saat memasuki atau meninggalkan wilayah Schengen untuk kunjungan singkat. Wisatawan asal Amerika Serikat dan Inggris yang bepergian tanpa visa Schengen umumnya perlu menyerahkan foto wajah dan sidik jari selama pendaftaran EES awal mereka.
Sementara itu, pelancong asal India yang memegang visa Schengen kunjungan singkat tetap masuk dalam kerangka EES, tetapi sidik jari yang telah dikumpulkan melalui permohonan visa disimpan dalam Sistem Informasi Visa dan tidak perlu didaftarkan ulang. Anak-anak di bawah usia 12 tahun dibebaskan dari pengambilan sidik jari, meskipun citra wajah mungkin tetap diperlukan.
Otoritas terkait terus berupaya menyelaraskan keamanan perbatasan yang lebih kuat dengan kelancaran perjalanan internasional tanpa mengorbankan sektor pariwisata. Wisatawan diimbau untuk memeriksa panduan masuk resmi dan informasi bandara sebelum keberangkatan guna mengantisipasi potensi penundaan di titik perbatasan yang terdampak.







