Rambut rontok merupakan masalah yang cukup umum dialami banyak orang, termasuk wanita yang aktif bekerja. Namun, di balik masalah yang kerap dianggap sebagai persoalan kecantikan ini, terdapat sejumlah faktor gaya hidup dan lingkungan kerja yang ternyata dapat memengaruhi kesehatan rambut.
Jam kerja panjang, tekanan pekerjaan, kurang tidur, hingga kebiasaan melewatkan waktu makan bisa menjadi pemicu meningkatnya kerontokan rambut. Kondisi ini sering kali tidak disadari karena sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Seperti dilaporkan women.okezone.com, dokter sekaligus trichologist, dr. Bushra Aziz, menjelaskan bahwa rambut rontok pada wanita pekerja bisa berkaitan dengan tuntutan gaya hidup modern yang semakin padat. Menurutnya, tubuh bisa mengalami dampak dari aktivitas yang terlalu melelahkan, stres berkepanjangan, dan kurangnya waktu untuk beristirahat, sementara rambut menjadi salah satu bagian tubuh yang menunjukkan adanya tekanan tersebut.
“Bagi banyak wanita pekerja, rambut rontok diam-diam menjadi gejala lain dari gaya hidup modern yang penuh tuntutan. Jam kerja panjang, terus-menerus terhubung dengan pekerjaan, kurang tidur, melewatkan waktu makan, dan stres berkepanjangan dapat memengaruhi tubuh. Rambut bisa menjadi salah satu bagian yang menunjukkan dampak tekanan tersebut,” jelas dr. Bushra.
Stres Bekerja Bisa Memicu Kerontokan Rambut
Salah satu kondisi yang dapat terjadi akibat stres fisik maupun psikologis adalah telogen effluvium. Kondisi ini menyebabkan lebih banyak folikel rambut memasuki fase istirahat atau telogen sehingga rambut mengalami kerontokan lebih banyak dari biasanya.
Kerontokan akibat kondisi tersebut umumnya baru terlihat beberapa bulan setelah seseorang mengalami peristiwa yang memicu stres. Akibatnya, banyak orang tidak menyadari bahwa tekanan atau perubahan kondisi tubuh yang terjadi sebelumnya berkaitan dengan rambut rontok yang dialami.








