Pariwisata Thailand Lesu, 148 Hotel Tutup dalam 9 Bulan

Industri perhotelan di Thailand mulai mengalami penurunan signifikan dengan tercatatnya 148 hotel yang menutup operasional mereka hanya dalam kurun waktu sembilan bulan. Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 42 persen apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Faktor Pemicu Penutupan Hotel di Thailand

Berdasarkan data dari lembaga riset ekonomi Kasikorn Research Center (KResearch) yang berbasis di Bangkok seperti dilaporkan Travel – Detikcom, penutupan ini dipicu oleh pemulihan sektor pariwisata yang berjalan lambat, tingkat persaingan antar penginapan yang semakin ketat, serta beban biaya operasional yang terus meningkat bagi para pengelola. Kendati demikian, angka 148 tersebut merujuk pada bisnis yang terdaftar menghentikan kegiatan usahanya, sehingga tidak otomatis berarti terdapat 148 bangunan fisik hotel yang ditutup secara permanen karena data pendaftaran usaha tidak selalu mencerminkan jumlah properti atau kamar yang benar-benar berhenti beroperasi.

Pada saat bersamaan, jumlah pendaftaran bisnis hotel dan akomodasi baru di Thailand justru mengalami penurunan. Sepanjang Januari hingga September 2026, tercatat 779 pendaftaran usaha baru atau turun 31,2 persen dibanding periode yang sama pada 2025, meskipun angka tersebut masih berada di atas capaian pada periode yang sama di tahun 2024.

Ketidakseimbangan Kapasitas dan Persaingan Ketat

Persoalan utama yang dihadapi industri ini adalah ketidakseimbangan antara kapasitas akomodasi dan tingkat permintaan wisatawan. Tingkat hunian hotel secara nasional di Thailand hanya mencatatkan kenaikan 0,18 persen secara tahunan selama sembilan bulan pertama 2026, bahkan 19 provinsi di antaranya justru mengalami penurunan tingkat hunian.

Di sisi lain, jumlah kamar hotel dan akomodasi melonjak hingga mencapai sekitar 876.000 kamar pada paruh pertama 2026, yang berarti mengalami peningkatan 11,7 persen dibandingkan tahun 2019. Kondisi ini menunjukkan bahwa kapasitas penginapan bertumbuh jauh lebih cepat daripada pemulihan jumlah tamu yang datang.

Persaingan juga semakin berat dengan hadirnya akomodasi alternatif berupa unit sewa jangka pendek melalui platform digital. Data AirDNA menunjukkan terdapat sekitar 50.000 unit sewa di Bangkok, Phuket, Chonburi, Chiang Mai, dan Surat Thani pada Oktober 2026, atau setara dengan 10 persen dari total kamar hotel dan akomodasi terdaftar di wilayah-wilayah tersebut.

Penurunan Kunjungan Wisatawan Asing

Akibat bertambahnya pilihan bagi pelancong, pengelola hotel terpaksa bersaing melalui penawaran harga, fasilitas, serta pengalaman menginap. KResearch memproyeksikan tarif kamar harian rata-rata akan mengalami penurunan sekitar 0,8 persen pada 2026, setelah pada tahun sebelumnya hanya mencatat kenaikan tipis sebesar 0,1 persen.

KResearch memperkirakan kunjungan pengunjung asing ke Thailand sepanjang 2026 akan berada di angka sekitar 31,4 juta orang, atau merosot 4 persen dibandingkan 2025. Jumlah tersebut baru mencakup sekitar 79 persen dari total kedatangan pada 2019 sebelum pandemi COVID-19 melanda.

Selama sembilan bulan pertama 2026, Thailand kedatangan sekitar 23,4 juta wisatawan asing atau turun 3,88 persen secara tahunan. Pemerintah setempat sebelumnya memasang target 33 juta kedatangan wisatawan asing hingga akhir tahun, sehingga pencapaian target tersebut sangat bergantung pada dinamika perjalanan di sisa tahun ini.

Tantangan Global dan Prospek Tahun Depan

KResearch menyatakan bahwa lambatnya pemulihan pariwisata ini dipengaruhi oleh sejumlah hal, mulai dari persaingan dengan destinasi lain, kondisi ekonomi yang melemah di negara asal pelancong, isu keamanan, hingga ketegangan geopolitik. Persaingan di kawasan regional dirasakan semakin kuat karena negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam memperluas konektivitas penerbangan serta menyesuaikan kebijakan visa mereka.

Sementara itu, pemerintah Thailand sendiri telah memperbarui sejumlah skema pembebasan visa dan Visa on Arrival mulai 15 September 2026 dengan pertimbangan keamanan nasional, kepentingan pariwisata, serta kemudahan perjalanan.

Memasuki tahun 2027, KResearch memberikan peringatan bahwa periode tersebut masih akan menjadi masa yang penuh tantangan bagi pelaku bisnis hotel dan akomodasi. Para pengelola dengan modal yang terbatas diprediksi akan menghadapi kesulitan besar untuk bertahan apabila tingkat hunian terus lemah, pasokan kamar baru terus bertambah, dan biaya operasional melambung.