Menengok Koleksi Museum Sumpah Pemuda, Ada Buku Kartini 1911
Museum Sumpah Pemuda di Jakarta menyimpan berbagai koleksi benda bersejarah yang merekam perjalanan masa lampau bangsa Indonesia. Pengunjung dapat melihat langsung beragam peninggalan bernilai tinggi, mulai dari buku karya Kartini edisi pertama hingga alat pemutar musik lawas.
Buku Karya Kartini Edisi 1911
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah buku berjudul Door Duisternis tot Licht atau yang dikenal di Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang karya Kartini. Buku edisi pertama yang terbit pada tahun 1911 tersebut disimpan rapi di dalam museum dengan kondisi yang masih tampak bagus dalam balutan sampul asli berwarna cokelat.
Koordinator Museum Sumpah Pemuda, Fathul Futuh Tamam menjelaskan bahwa buku setebal 583 halaman berbahasa Belanda ini memuat kumpulan surat yang menggambarkan kehidupan serta pemikiran sang tokoh. Di dalam buku tersebut juga terdapat tulisan tangan dan foto dari Kartini sendiri.
“Museum Sumpah Pemuda punya edisi pertama terbitan buku Kartini yang diterbitkan tahun 1911, di mana dalam buku itu masih ada tulisan tangan nama Kartini,” ujar Fathul seperti dilaporkan detikTravel.
Ia menambahkan, “Ada fotonya dan tulisan dirinya sendiri, dia menuliskan dan membukukan namanya sendiri di buku Kartini. Tebal bukunya 583 halaman dan bahasanya bahasa Belanda.” Lewat koleksi ini, pengunjung dapat melihat secara langsung wujud fisik buku tersebut.
Baca Artikel Lainnya
- Menemukan Akar Budaya Lewat Mancing Salmon di Alaska ›
- Cita Tenun Indonesia Pamerkan Koleksi Wastra di JFW 2027 ›
- Gubernur Bali Targetkan Bartender Arak Bali Menang di Polandia ›
- Atla Tadde 2026: Jadwal, Puja, dan Tradisi Perayaan ›
- Jadwal dan Waktu Puja Dhanteras 2026 di Berbagai Negara ›
- Eco Expo Asia 2026 Dibuka di Hong Kong, Soroti Inovasi Hijau ›
Gramofon Langka dan Mesin Ketik Kuno
Selain buku bersejarah, museum ini juga memiliki koleksi gramofon atau alat pemutar piringan hitam lawas yang didatangkan ke Indonesia pada tahun 1927. Berdasarkan penelusuran pihak keluarga pemilik sebelumnya, perangkat pemutar musik buatan Jerman dengan onderdil asal Swiss itu diklaim sebagai barang yang sangat langka.
“Ini gramofon yang sangat langka, statusnya saat ini informasi dari pihak keluarga adalah satu-satunya di Indonesia dan ASEAN. Gramofon didatangkan ke Indonesia tahun 1927. Walaupun dibuat di Jerman, tapi isi pairnya itu dibuat di Swiss,” kata Fathul.
Fathul mengungkapkan bahwa gramofon tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah lagu kebangsaan. Alat itu digunakan untuk memutar pertama kalinya lagu Indonesia Raya setelah berhasil direkam ke dalam piringan hitam.
Di samping gramofon, terdapat pula perangkat mesin ketik merek Remington keluaran tahun 1874 dan Continental buatan Inggris tahun 1842. Koleksi lain yang tersimpan dengan baik di tempat ini mencakup sekitar 2.973 foto dari tahun 1930 serta sejumlah kaset lawas.
Seluruh benda bersejarah tersebut dapat disaksikan secara langsung oleh pengunjung dengan didampingi pemandu di Ruang Koleksi Lantai 2 Museum Sumpah Pemuda, dengan ketentuan pengunjung yang masuk minimal berusia setingkat SMA.


