Menelisik Koleksi dan Sejarah Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, menawarkan pengalaman wisata sejarah dengan beragam koleksi dan ruang pameran bertema. Pengunjung dapat menyusuri rekam jejak perjuangan pemuda Indonesia melalui susunan ruangan yang dirancang selaras dengan alur cerita masa lalu.

Sejarah Ruangan dan Koleksi Interaktif

Bangunan museum masih mempertahankan bentuk aslinya sehingga menghadirkan suasana masa lampau bagi para pengunjung. Museum ini terdiri atas beberapa area pameran, seperti ruang pengenalan yang memuat profil tokoh pemberi hibah bangunan, ruang organisasi, serta ruang undangan kongres yang menyimpan berbagai artefak bersejarah.

Selain itu, terdapat ruang kongres, kamar 106, ruang Sie Kong Lian, ruang Indonesia Raya, ruang kepanduan, serta ruang linimasa Sumpah Pemuda. Di ruang kongres, sebuah diorama menggambarkan suasana pertemuan sekitar 200 pemuda pada masa perjuangan. Seperti dilaporkan detikTravel, Koordinator Museum Sumpah Pemuda Fathul Futuh Tamam menjelaskan bahwa ruangan pameran tersebut dahulunya merupakan kamar-kamar di rumah indekos, kecuali ruang pengenalan dan ruang kongres.

“Sebetulnya ruangan-ruangan itu adalah kamar-kamar. Jadi yang tidak pernah dipakai untuk tidur adalah ruangan pertama (ruang pengenalan) dan ruang kongres. Selebihnya dipakai untuk tidur,” kata Fathul kepada detikTravel.

Di ruang Indonesia Raya, pengalaman berkunjung dikemas secara interaktif. Pengunjung dapat mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dari berbagai versi, mulai dari era pendudukan Jepang hingga aransemen terbaru. Ruangan ini juga dilengkapi teknologi yang memungkinkan pengunjung menjadi dirigen hanya dengan mengangkat sebuah tongkat untuk memutar lagu secara otomatis.

Ruang Linimasa dan Koleksi Lantai Dua

Museum Sumpah Pemuda juga menghadirkan ruang linimasa Sumpah Pemuda yang menampilkan perkembangan sejarah lewat penataan pameran. Menurut Fathul, penataan ruangan dengan konsep baru ini mulai diterapkan pada September 2025 untuk menggantikan area yang sebelumnya difungsikan sebagai ruang kontemplasi.

Sementara itu, lantai dua museum menyimpan berbagai benda bersejarah berharga. Koleksi yang dipamerkan meliputi gramofon, mesin ketik, foto-foto tempo dulu, kaset lawas, hingga buku edisi pertama karya R.A. Kartini berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang terbitan tahun 1911.

Masyarakat yang ingin berkunjung dapat memanfaatkan moda transportasi umum seperti Transjakarta dengan turun di halte terdekat. Harga tiket masuk museum dipatok Rp3.000 untuk anak usia 3 hingga 12 tahun, Rp5.000 untuk pengunjung dewasa, serta Rp25.000 bagi wisatawan mancanegara. Museum Sumpah Pemuda beroperasi setiap Selasa hingga Minggu pada pukul 08.00 sampai 16.00 WIB, serta tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.