Daftar Isi
Sebanyak lima bandara utama di Australia terdampak oleh aksi mogok staf Qantas yang berlangsung selama 24 jam pada Rabu, 28 Oktober 2026. Berdasarkan laporan Liputan6.com Travel, penghentian kerja oleh para pekerja darat ini dipicu oleh perselisihan dengan maskapai mengenai kenaikan upah, kepastian jam kerja, serta perbaikan kondisi kerja.
Wilayah Terdampak dan Jadwal Aksi
Seperti dilaporkan Aviation Today, penghentian aktivitas tersebut terjadi di Bandara Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, dan Perth. Pekerja yang terlibat berasal dari Qantas Ground Services (QGS), Australian Air Express (AAE), serta Qantas Airways Limited (QAL). Aksi ini diumumkan pada 23 Oktober setelah perundingan dengan pihak manajemen belum menemui titik terang.
Sekitar 600 anggota Transport Workers’ Union (TWU) memenuhi syarat untuk mengikuti aksi, meski angka tersebut tidak mencerminkan jumlah pasti pekerja yang benar-benar berhenti bekerja. Waktu berakhirnya aksi pun berbeda-beda di setiap bandara. Di Sydney dan Adelaide, penghentian kerja selesai pada Kamis, 29 Oktober pukul 04.59 waktu setempat.
Sementara itu, aksi di Melbourne berakhir pukul 09.59, sedangkan di Brisbane dan Perth berlangsung hingga pukul 18.59 waktu setempat. Qantas menyatakan belum ada laporan mengenai gangguan layanan, antrean tambahan, maupun keterlambatan hingga pukul 09.00 pada hari Rabu. Aksi mogok ini tercatat sebagai yang kedua dalam kurun waktu dua bulan terakhir setelah insiden serupa pada September 2026.
Tuntutan Pekerja dan Respons Maskapai
Tuntutan utama para pekerja mencakup upah yang sesuai standar industri, kesempatan memperoleh pekerjaan penuh waktu, serta kepastian jam kerja. TWU menilai tekanan terhadap upah selama bertahun-tahun membuat pembenahan perjanjian kerja menjadi kebutuhan mendesak. Serikat pekerja juga meminta penyatuan pekerja dari berbagai entitas perusahaan ke dalam satu struktur Qantas demi kesetaraan kondisi kerja, di samping menyoroti peningkatan aspek keselamatan.
Menanggapi perselisihan tersebut, Qantas mengajukan rancangan perjanjian kerja bagi karyawan QGS yang mencakup pembayaran upah secara surut sejak September 2025 serta kenaikan gaji hingga 26 persen selama masa perjanjian. Maskapai juga menawarkan tambahan posisi penuh waktu dan jam kerja yang dijamin bagi pekerja paruh waktu. Proposal ini selanjutnya akan melalui pemungutan suara karyawan untuk menentukan penerimaannya.
Dampak pada Kargo dan Penerbangan
Aksi mogok ini turut berpotensi memengaruhi penanganan kargo, termasuk pengiriman barang melalui Australia Post. Sebagian staf yang terlibat bertugas di sektor tersebut sehingga berisiko memengaruhi kelancaran distribusi. Selain itu, keterlibatan staf pendukung dalam layanan regional QantasLink di Sydney membuka peluang terjadinya gangguan penerbangan regional.
Qantas Freight menyatakan bahwa terminal kargonya tetap beroperasi dengan mengandalkan sejumlah langkah antisipasi, termasuk memprioritaskan pengiriman penting dan barang sensitif terhadap waktu. Kendati demikian, pelanggan tetap diminta untuk mengantisipasi tambahan waktu pemrosesan selama periode mogok berlangsung.







