Daftar Isi
Seorang pakar keselamatan kereta api menyatakan akan mempertimbangkan ulang penggunaan moda transportasi kereta cepat di Spanyol menyusul insiden tabrakan maut yang menewaskan 69 orang. Peristiwa tragis ini merupakan kecelakaan kereta mematikan keempat yang melanda Spanyol sepanjang tahun ini.
Pertimbangan Ulang Perjalanan Kereta
Kecelakaan tersebut terjadi pada Rabu (28/10) di kawasan pedesaan Provinsi Toledo, melibatkan dua kereta cepat yang bertabrakan di atas jalur rel. Peristiwa ini memicu perdebatan luas mengenai tingkat keamanan bepergian menggunakan kereta di Spanyol. Francisco Badea Romero, profesor teknik mesin di Nebrija University Madrid sekaligus pakar sertifikasi perkeretaapian, menyampaikan kepada The Independent bahwa dirinya akan mencari alternatif transportasi lain untuk saat ini.
Menurut Badea Romero kepada The Independent, dirinya secara pribadi akan memilih moda transportasi alternatif sampai ada bukti nyata bahwa segala sesuatunya telah berubah dan membaik. Ia menjelaskan bahwa kecelakaan semacam ini sangat jarang terjadi dalam sejarah perkeretaapian Eropa, sehingga ketika insiden serupa terjadi lebih dari sekali dalam setahun, hal itu menandakan tidak adanya perbaikan sama sekali.
Badea Romero merujuk pada insiden lain yang melibatkan kereta cepat tergelincir dan menabrak kereta dari arah berlawanan pada 18 Januari lalu di dekat Adamuz, Provinsi Cordoba. Tabrakan tersebut merenggut 46 nyawa dan menyebabkan lebih dari 120 orang mengalami luka-luka. Dua kecelakaan fatal lainnya juga tercatat terjadi pada 2026, termasuk kecelakaan kereta komuter di Barcelona yang menewaskan satu orang, serta insiden di Provinsi Toledo di mana sebuah mobil tertabrak di perlintasan sebidang yang mengakibatkan pengemudinya meninggal dunia.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya baru akan kembali menaruh kepercayaan pada sistem perkeretaapian ketika melihat adanya perubahan nyata. Padahal, imbuhnya, sistem transportasi tersebut termasuk salah satu yang paling aman apabila dijalankan sesuai dengan prosedur yang semestinya. Ia bahkan mengaku sangat terkejut karena insiden separah itu bisa benar-benar terjadi.
Kronologi dan Dugaan Penyebab
Kedua layanan kereta yang mengalami tabrakan tersebut sedang menempuh perjalanan antara Madrid dan wilayah Andalusia selatan dengan mengangkut 544 penumpang saat insiden terjadi pada pukul 09.00 pagi waktu setempat. Kereta ekspres yang dioperasikan oleh perusahaan Iryo ditabrak oleh kereta milik Renfe di wilayah Toledo. Berdasarkan keterangan seseorang yang mengetahui insiden tersebut, kereta Iryo saat itu sedang berhenti akibat gangguan sinyal.
Otoritas Spanyol belum merilis identitas para korban seiring proses identifikasi jenazah yang masih berlangsung, sementara korban luka diperkirakan mencapai lebih dari 100 orang. Menteri Transportasi Spanyol, Óscar Puente, menyatakan bahwa kecelakaan itu kemungkinan dipicu oleh kelalaian manusia karena salah satu kereta telah diinstruksikan untuk melanjutkan perjalanan.
Puente menjelaskan bahwa gangguan komputer yang terjadi lebih dahulu pada pagi itu menyebabkan enam kereta yang sedang berjalan terpaksa berhenti, termasuk dua kereta yang kemudian bertabrakan. Ketika sistem tersebut mengalami kegagalan, pusat pengendali mengambil alih kendali yang merupakan protokol standar, dan pada saat itu pihak pusat pengendali memutuskan untuk mengizinkan kereta-kereta tersebut bergerak kembali tanpa pembatasan kecepatan dalam situasi yang dinilainya tidak dapat dijelaskan.
Menanggapi hal tersebut, Badea Romero berpendapat bahwa meskipun kejadian ini tampak seperti kesalahan satu orang di meja kontrol, realitasnya sistem tersebut sangat kompleks dan memiliki banyak lapisan pengaman tangguh yang seharusnya mampu mencegah insiden. Kemungkinan seorang petugas di pusat kendali memberikan perintah salah yang berujung pada kecelakaan dinilai sangat kecil dan hampir mustahil terjadi.
Sistem Pengamanan dan Evaluasi Pengelola
Ia menjelaskan bahwa teknologi canggih bernama sistem blokade berfungsi memberi tahu masinis secara otomatis mengenai posisi kereta lain di dekatnya serta jarak aman di antara mereka. Sistem ini seharusnya juga memancarkan peringatan kepada masinis maupun pusat pengendali. Oleh karena itu, menurut Badea Romero, sekalipun operator pusat kendali memberikan instruksi yang keliru, sistem blokade otomatis seharusnya tidak pernah membiarkan hal tersebut terjadi.
Kendati demikian, kenyataannya insiden tersebut tetap terjadi dan penyebab pastinya masih menunggu hasil investigasi resmi yang diluncurkan oleh para pejabat Spanyol. Sang profesor menduga ada banyak sistem yang mengalami kegagalan secara bersamaan dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yang langsung mengarah pada tanggung jawab pengelola infrastruktur.
Pernyataan tersebut ditujukan kepada Adif, perusahaan pengelola infrastruktur kereta api milik negara Spanyol yang berada di bawah naungan kementerian transportasi. Menurut Badea Romero, salah satu masalah utama adalah perusahaan-perusahaan tersebut tidak memiliki mekanisme pengimbang karena mereka bergantung sepenuhnya kepada pemerintah sehingga tidak ada pihak yang dapat mempertanyakan kinerja mereka. Ia menegaskan bahwa pihak pengelola infrastruktur perlu dievaluasi secara mendalam dengan mengambil inspirasi dari pihak luar guna memastikan segala sesuatunya berjalan dengan benar, sementara The Independent telah menghubungi Adif untuk meminta tanggapan.








