Sejarah dan Makna Tradisi Ogoh Ogoh Bali

Tradisi Ogoh Ogoh Bali, Liburan Sambil Menyaksikan Pawai yang Spektakuler

Tradisi Ogoh Ogoh Balieh, kamu nggeh nggak sih? ada satu pawai di Bali yang cukup unik banget, ini tu sejenis tradisi yang secara rutin mereka lakukan, namanya Tradisi “Ogoh Ogoh” Bali. Bahkan, kamu tak akan pernah menemukan hal semacam dan semeriah ini di tempat lain.

Hanya beberapa tempat yang memiliki mayoritas ‘suku Bali’.

Jadi, upacara ini mereka lakukan setiap menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di berbagai daerah di Bali berubah drastis.

Bayangin aja, itu semua jalan-jalan yang biasanya dipenuhi wisatawan mulai dipadati masyarakat lokal yang mempersiapkan sebuah tradisi unik, yaitu pawai Ogoh-Ogoh.

Ribuan orang berkumpul di pinggir jalan untuk menyaksikan patung-patung raksasa dengan bentuk yang beragam diarak sambil diiringi musik tradisional dan semangat para pemuda banjar.

Saya sendiri pernah punya pengalaman menonton pawai/ upacara Ogoh Ogoh ini. Wah, ini beneran meriah banget dan suasananya berasa banget ‘khas Bali’nya.

Bagi wisatawan, Tradisi Ogoh-Ogoh Bali bukan sekadar tontonan, melainkan kesempatan untuk mengenal budaya Bali dari dekat.

Menelusuri Sejarah dan Makna Tradisi Ogoh Ogoh Bali

Mengenal Sejarah dan Makna Tradisi Ogoh Ogoh Bali
Mengenal Sejarah dan Makna Tradisi Ogoh Ogoh Bali

Ogoh-ogoh ini memang sangat populer dalam kalangan masyarakat Bali, bahkan sudah menjadi salah satu tradisi paling ikonik di Bali yang selalu dinanti setiap tahun menjelang Hari Raya Nyepi.

Beentukannya unik banget loh ~

Patung raksasa berwujud menyeramkan ini bukan sekadar tontonan, melainkan simbol budaya dan spiritual yang sarat makna.

Oh ya, beberapa tahun terakhir di Mataram, Lombok juga sudah menyelenggarakan hal yang sama. Masyarakat Bali yang ada di Mataram juga terbilang cukup banyak.

Jadi, ini juga sudah ada di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Ya, memang Pulau Lombok dan Pulau Bali itu hanya di pisahkan oleh selat Lombok. Jadi, wajar sih ada banyak masyarakat Bali di pulau ini, khususnya di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.

1. Apa Itu Ogoh-Ogoh?

Istilah “ogoh-ogoh” berasal dari kata dalam bahasa Bali, “ogah-ogah”, yang berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan — menggambarkan cara patung ini digerakkan secara dinamis saat diarak.

Ogoh-ogoh umumnya berwujud sosok Bhuta Kala, yaitu simbol kekuatan negatif dari unsur alam dan waktu yang perlu dinetralisir sebelum umat Hindu memasuki Hari Raya Nyepi.

Bentuknya biasanya digambarkan bertubuh besar, berkuku dan bertaring panjang, berwajah seram, dengan rambut acak-acakan.

Eh, ini tu sekilas terlihat serem loh.

Unik dan gede bangte ~

Dalam perkembangannya ogoh-ogoh juga banyak dibuat menyerupai tokoh mitologi seperti naga, raksasa, widyadari, hingga sosok-sosok populer di masyarakat.

2. Asal-Usul dan Sejarah Ogoh-Ogoh

Ogoh ogoh ini memang sudah menjadi sebuah tradisi yang mereka lakukan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka hingga terus berkembang menjadi seperti sekarang ini.

Masyarakat Bali memang keren sih!

Mereka tetap berpegang teguh dengan adat istiadat mereka, budaya mereka, penginggalan leluhur mereka.

Ini tetap terjaga dengan baik ~

Sebenarnya, untuk sejarah kemunculan ogoh-ogoh ini sendiri memiliki beberapa versi yang berkembang di masyarakat Bali:

Versi Dalem Balingkang:

Ogoh-ogoh dipercaya sudah dikenal sejak era kerajaan Dalem Balingkang, saat itu digunakan dalam upacara Pitra Yadnya (upacara pemujaan kepada roh leluhur) sebagai simbol penghormatan sekaligus pengantar roh menuju alam berikutnya.

Versi Ngusaba/Ndong-Nding:

Ada pendapat yang mengaitkan asal-usul ogoh-ogoh dengan tradisi Ngusaba Ndong-Nding dan kesenian ngelawang di kawasan Karangasem dan Gianyar.

Versi Barong Landung:

Sebagian meyakini ogoh-ogoh terinspirasi dari Barong Landung, wujud pasangan Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei yang digambarkan berwajah buruk dan menyeramkan.

Versi Lelakut:

Versi lain menyebut cikal bakal ogoh-ogoh berasal dari lelakut atau orang-orangan sawah yang dipakai petani untuk mengusir burung.

Banyak banget kan versinya!

Sebagai gerakan pawai modern seperti yang dikenal sekarang, tradisi arak-arakan ogoh-ogoh mulai berkembang sekitar tahun 1983, bertepatan dengan ditetapkannya Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional oleh pemerintah.

Sejak itu, masyarakat Bali mulai rutin membuat wujud Bhuta Kala yang diarak dalam rangkaian upacara Pengerupukan.

Seberapa banyak pun versinya, yang jelas tradisi ini menjadi salah satu kekayanan Indonesia dan bangga dengan segala bentuk budaya dan tradisi yang ada didalamnya.

3. Makna Filosofis dan Religius

Di balik kemeriahannya, pawai ogoh-ogoh menyimpan makna yang dalam bagi Masyarakan Hindu di Bali.

Ini bukan hanya tentang sebuah adat warisan leluhur mereka, tapi setiap pelaksanaannya selalu ada makna yang tersirat didalamnya.

Coba deh kamu simak apa saja yang menjadi makna filosofis dan religius yang terdapat dalam acara ogoh ogoh ini:

Simbol Bhuta Kala:

Mewakili energi negatif dan sifat buruk manusia yang harus disingkirkan sebelum memasuki masa penyucian diri (Nyepi).

Media introspeksi:

Proses pembuatan hingga pengarakan ogoh-ogoh mengajak masyarakat merenungkan sifat-sifat buruk dalam diri sendiri.

Nilai gotong royong

Pembuatan ogoh-ogoh yang rumit membutuhkan kekompakan warga banjar/desa adat, sehingga memperkuat kebersamaan dan solidaritas sosial, terutama di kalangan pemuda (sekaa teruna).

Nyomia Bhuta Kala

Setelah diarak keliling desa menuju sema (area dekat kuburan/tempat pembakaran jenazah), ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol menetralisir energi negatif menjadi energi positif.

Menariknya, meski identik dengan Nyepi, ogoh-ogoh sebenarnya bukan bagian dari ritual wajib keagamaan Nyepi itu sendiri — tradisi ini lebih merupakan ekspresi budaya dan seni masyarakat yang berkembang secara spontan dan terus berevolusi.

4. Proses Pembuatan Ogoh-Ogoh

Ini fase yang sangat rumit…

Merencanakan, mendesign hingga mengerjakan detail dari ogo ogoh ini menjadi hal yang diluar nalar kita.

Bayangin aja ada patung raksana dengan bentuk yang benar-benar berkarakter dan unik.

Untuk pembuatan dan pengerjaan patung ogoh-ogoh ini memang biasanya mereka kerjakan secara kolektif oleh sekaa teruna (organisasi pemuda banjar).

Ini bener-bener bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga dua bulan, tergantung bahan dan tingkat kerumitan desain.

Apalagi patung Ogoh Ogoh dengan tingkat kesulitan tinggi dengan detail karakter yang sangat kuat dan unik.

Untuk bahan-bahan yang sangat umum mereka gunakan adalah:

  • Anyaman bambu sebagai rangka utama
  • Kertas koran atau kertas daur ulang
  • Gedeg (anyaman bambu pipih), guungan, dan rotan
  • Bahan organik alternatif seperti sabut kelapa dan kayu

Mungkin saja kamu ketawa melihat bahan-bahan ini!

Tapi setelah melihat hasil, kamu langsung akan terkagum-kagum dengan mahakarya ogoh ogoh ini. Setiap pengunjung yang melihat hasil, mereka selalu kagum!

Aturan dan Larangan Resmi Pemerintah Bali

Sejumlah pemerintah daerah di Bali, termasuk Denpasar dan Gianyar, secara resmi melarang penggunaan styrofoam/gabus dalam pembuatan ogoh-ogoh sejak akhir 2010-an.

Larangan ini diperkuat oleh Peraturan Gubernur Bali No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai serta berbagai peraturan wali kota/bupati terkait pengurangan sampah plastik.

Alasannya, styrofoam sulit terurai dan saat dibakar menghasilkan asap serta residu berbahaya karena mengandung senyawa benzena.

…Ini yang perlu kamu garisbawahi!

Meskipun terlihat sepele, tapi tradisi Ogo Ogo di Bali ini tetap memikirkan dampak lingkungan dari apa yang mereka lakukan.

Keren sih!

Sebagai gantinya, peserta lomba ogoh-ogoh diwajibkan memakai bahan ramah lingkungan seperti anyaman bambu, kayu, kertas, gedeg, atau rotan; sementara kawat jaring hanya boleh dipakai untuk aksesoris seperti kamen, selendang, dan rambut.

Tantangan dari beralih ke bahan alami adalah biaya lebih tinggi dan waktu pengerjaan yang lebih lama dibanding styrofoam.

Dalam lomba resmi, tinggi ogoh-ogoh umumnya diatur berkisar 3 hingga 5,5 meter dari permukaan tanah.

Setelah rampung dibuat, ogoh-ogoh biasanya didoakan/disucikan sebagai penghormatan terhadap entitas spiritual yang direpresentasikannya, sebelum diarak.

Rangkaian Acara Ogoh Ogoh Di Bali (Rundown)

Tradisi Ogoh Ogoh Bali
Tradisi Ogoh Ogoh Bali

Seringkali kita yang dari luar daerah Bali mungkin akan bingung dan bertanya, kapan sih pawai ogoh ogoh ini?

Kamu tidak bisa menemukan tradisi ini di luar agenda pelaksanaan,

cuma setahun sekali loh!

Sebagai orang yang pertama kali akan menyaksikan pawai ogoh ogoh ini, ada rangkaian acara Ogoh Ogoh di Bali yang wajib untuk kamu paham.

Coba simak beberapa poin rangkaian acaranya berikut ini:

:

TahapWaktuKegiatan
Melasti2–3 hari sebelum NyepiProsesi penyucian diri (Bhuana Alit) dan alam semesta (Bhuana Agung) ke sumber air suci (laut/danau/sungai). Pratima, Rangda, Barong, dan Arca diarak beramai-ramai memakai baju putih
Tawur Agung KesangaSehari sebelum Nyepi (pagi)Upacara besar penetralisir Bhuta Kala secara niskala di catus pata (perempatan desa)
Pengerupukan & Pawai Ogoh-OgohSore–malam, sehari sebelum NyepiSebelum diarak, peserta biasanya minum arak tradisional sebagai simbol pelepasan sifat buruk. Ogoh-ogoh diarak keliling desa diiringi gamelan bleganjur, lalu dibakar habis di sema
Nyepi (Catur Brata Penyepian)24 jam, mulai 06.004 pantangan: Amati Geni (tak menyalakan api/listrik), Amati Karya (tak bekerja), Amati Lelungan (tak bepergian), Amati Lelanguan (tak bersenang-senang)
Ngembak GeniSehari setelah NyepiMasyarakat saling bermaaf-maafan (mirip halal bihalal), aktivitas normal kembali berjalan

Tanggal Event Ogoh Ogoh Bali 2027 (Perlu Disclaimer)

Event Ogoh Ogoh Bali
Event Ogoh Ogoh Bali

Bagaimana untuk tahun 2027?

Apakah ada agenda ini? Nah, dari beberapa referensi yang terpercaya tradisi ogoh ogoh di Bali ini masih tetep dalam rencana pelaksanaan.

Untuk beberapa informasinya, bisa kamu cek berikut ini:

  • Berdasarkan proyeksi kalender Saka/Hijriah, Hari Raya Nyepi 2027 diperkirakan jatuh Selasa, 9 Maret 2027, dengan Pengerupukan/pawai Ogoh-Ogoh pada Senin, 8 Maret 2027 (malam sebelumnya).
  • Catatan penting: SKB 3 Menteri resmi untuk 2027 belum diterbitkan pemerintah (biasanya rilis akhir tahun sebelumnya), jadi tanggal ini masih proyeksi. Saya menemukan beberapa sumber yang saling bertentangan (ada yang menyebut 8 Maret, 9 Maret, bahkan 19 Maret) — sebaiknya artikel Anda mencantumkan disclaimer “tanggal final menunggu penetapan resmi pemerintah” agar tetap akurat dan tidak menyesatkan pembaca.
  • 2027 juga unik karena Nyepi & Idulfitri diproyeksikan berdekatan (hanya selisih 1–2 hari), fenomena langka yang bisa jadi angle menarik untuk artikel Anda.

Oh ya, ini masih bersifat perencanaan pelaksanaan!

Jika kamu berniat untuk datang langsung dan menyaksikan petung-patung raksasa ini, sebaginya lakukan pengecekan ulang sebelum berangkat.

Ini sudah masuk dalam event nasional, jadi cukup gampang untuk kamu dapatkan informasi yang akurat dan pasti.

Info Wisata Praktis ke Bali

Ada bebera[a informasi untuk para wisatawan selama rangkaian acara ini. Karena ini merupakan rentetan dari beberapa acara.

Bukan hanya ogoh-ogoh saja, masih banyak lagi event-event adat lainnya.

Untuk itu, kamu harus tahu beberapa informasi yang akan berlaku selama proses rangkaian acara ini, simak selengkapnya berikut ini:

  • Bandara I Gusti Ngurah Rai ditutup total 24 jam (domestik & internasional) — satu-satunya bandara di dunia yang tutup total untuk perayaan keagamaan lokal, ini fakta unik yang jarang dieksplor mendalam.
  • Pelabuhan & terminal juga ditutup; jalan raya kosong total kecuali kendaraan darurat.
  • Wisatawan tetap bisa beraktivitas di dalam hotel, tapi dilarang ke pantai/jalan.
  • Sebelum Nyepi, wisatawan justru dianjurkan menyaksikan pawai ogoh-ogoh (atraksi budaya terbuka untuk umum) — banyak hotel di area seperti Seminyak bahkan mengadakan aktivitas khusus (workshop membuat ogoh-ogoh mini untuk anak, dsb).
  • Etika saat memotret: selalu minta izin, hormati kesakralan prosesi.

Rangkaian Upacara Menjelang Nyepi

Ogoh-ogoh adalah satu bagian dari rangkaian panjang perayaan Tahun Baru Saka:

  1. Melasti — beberapa hari sebelum Nyepi, umat Hindu mengarak benda-benda sakral pura menuju laut atau danau untuk disucikan.
  2. Tawur Kesanga — upacara yang digelar sehari sebelum Nyepi untuk menetralisir kekuatan negatif dan mengharmoniskan alam semesta; upacara ini berdimensi religius, sosial, budaya, sekaligus ekonomi bagi masyarakat.
  3. Pengerupukan / Malam Pawai Ogoh-Ogoh — malam hari sebelum Nyepi, diramaikan dengan arak-arakan ogoh-ogoh keliling desa diiringi gambelan tradisional Bali seperti bleganjur. Sebelum pawai dimulai, sebagian peserta memiliki tradisi minum arak tradisional yang melambangkan sifat buruk manusia. Di beberapa daerah, penggunaan sound system saat pengarakan justru dilarang agar musik tradisional tetap menjadi pengiring utama.
  4. Hari Raya Nyepi — 24 jam penuh hening dengan menjalankan Catur Brata Penyepian: Amati Geni (tidak menyalakan api/listrik), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang/berpuasa). Bandara Ngurah Rai, jalanan, dan seluruh aktivitas publik di Bali berhenti total selama periode ini — termasuk bagi wisatawan asing yang tetap wajib menghormati aturan ini di dalam akomodasi masing-masing.
  5. Ngembak Geni — sehari setelah Nyepi, menjadi momen saling memaafkan (mesima krama) dan memulai lembaran baru.

Kapan Ogoh-Ogoh dan Nyepi Dirayakan?

Tanggal Nyepi berubah setiap tahun karena mengikuti penanggalan Saka (kalender lunar Bali), bukan kalender Masehi. Berikut referensi tanggal terkini:

  • Nyepi 2026: jatuh pada 19 Maret 2026 (malam Pengerupukan/pawai ogoh-ogoh berlangsung 18 Maret 2026).
  • Nyepi 2027 (Tahun Baru Saka 1949): menurut sejumlah sumber kalender resmi dan proyeksi SKB 3 Menteri, jatuh pada Selasa, 9 Maret 2027, dengan malam Pengerupukan/pawai ogoh-ogoh berlangsung pada malam sebelumnya (8 Maret 2027).

Catatan: penetapan resmi hari libur nasional untuk tahun 2027 baru akan dikeluarkan pemerintah melalui SKB 3 Menteri menjelang akhir 2026, sehingga tanggal ini masih berpotensi mengalami penyesuaian minor — sebaiknya dicek kembali mendekati waktunya.

Lokasi Terbaik Menyaksikan Pawai Ogoh-Ogoh

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung, berikut sejumlah titik populer di Bali:

Denpasar

  • Simpang Catur Muka — pusat Kota Denpasar, jadi favorit tahunan dengan ogoh-ogoh dari Banjar Tainsiat dan Banjar Gemeh
  • Kawasan Renon — sekitar Plaza Renon dan Jalan Cok Agung Tresna
  • Lapangan Pameran Desa Adat Sesetan — lokasi Festival Ogoh-Ogoh dengan puncak acara biasanya di pertengahan Maret
  • Jalan Teuku Umar Barat, Padangsambian — parade bertajuk “Sandikala” yang menampilkan belasan ogoh-ogoh
  • Jalan Tukad Barito Barat, Panjer — sering menampilkan karya-karya yang masuk nominasi ogoh-ogoh terbaik Denpasar

Badung

  • Kuta — kawasan Ground Zero hingga Pantai Kuta, dan Catus Pata Melasti di Desa Adat Legian
  • Nusa Dua — dipusatkan di Catus Pata Desa Adat Bualu, suasana wisata yang lebih tertata
  • Garuda Wisnu Kencana (GWK) — menggelar pawai ogoh-ogoh di dalam kawasan taman budaya dengan tiket masuk tersendiri
  • Puspem Badung — menampilkan ogoh-ogoh hasil seleksi terbaik dari berbagai zona di Badung
  • Canggu — Pantai Batu Bolong, Echo Beach, serta Munggu dan Seseh di utara Canggu untuk suasana lebih tradisional dan meriah

Sanur

  • Rute Banjar Taman–McD Sanur–Perempatan KFC Sanur, serta area Pantai Mertasari

Ubud — pawai yang relatif lebih tertata dan teatrikal, terpusat di Jalan Monkey Forest, Jalan Raya Ubud, dan sekitar Puri Ubud

Wilayah lain

  • Singaraja (Jalan Diponegoro) — suasana lebih otentik dan tidak terlalu ramai wisatawan
  • Kintamani — pawai menuju kawasan Danau Batur dan Pura Segara Ulun Danu Batur, memadukan budaya dan alam
  • Semarapura, Klungkung — suasana lebih tradisional dengan karya pemuda desa setempat, dekat Monumen Puputan Klungkung dan Kerta Gosa
  • Kota Singasana, Tabanan — lokasi Festival Ogoh-Ogoh Singasana yang jadi ajang apresiasi sekaa teruna se-Tabanan
  • Negara, Jembrana — dipusatkan di Perempatan Kantor Bupati Jembrana

Jika berencana menyaksikan pawai di beberapa lokasi sekaligus, perhitungkan waktu perjalanan karena banyak ruas jalan akan ditutup sementara untuk pawai.

Takutnya, malah kamu nggak dapat satu moment pun ~

Pahami bahwa keesokan harinya (Hari Raya Nyepi) seluruh Bali akan “mati total” selama 24 jam — bandara tutup, tidak ada aktivitas keluar rumah/akomodasi, tidak ada lampu menyala di malam hari.

Wisatawan yang menginap di Bali wajib mematuhi aturan ini meski bukan penganut Hindu.

Pahami ini ya ~

Selain nilai spiritualnya, pawai ogoh-ogoh kini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mengundang perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

Proses pembuatan yang melibatkan seluruh warga banjar turut menghidupkan ekonomi kreatif lokal — mulai dari pembelian bahan baku, pembuatan kostum pengiring, hingga penyelenggaraan lomba dan festival ogoh-ogoh antar-wilayah yang kerap memberikan hadiah dan dana pembinaan bagi kelompok pemuda pemenang.

Sumber Referensi Lainnya

Artikel ini berdasarkan dari berbagai sumber, di antaranya laman resmi Pemerintah Provinsi Bali dan sejumlah pemerintah kabupaten/kota di Bali, ANTARA News, detikNews (RMOL, IDN Times), Balipost, NusaBali, Beritabali, jurnal ilmiah tentang bahan ramah lingkungan ogoh-ogoh, serta laman kalender Hindu Bali dan pariwisata terkait tanggal perayaan Nyepi.

Catatan untuk penulis: tanggal Nyepi 2027 di atas masih berupa proyeksi dari beberapa sumber kalender karena SKB 3 Menteri resmi biasanya baru terbit akhir tahun sebelumnya — sebaiknya update kembali data ini mendekati waktu publikasi agar akurat.

FAQ

Apakah wisatawan boleh menonton Tradisi Ogoh-Ogoh?

Ya. Wisatawan domestik maupun mancanegara dapat menyaksikan pawai selama tetap menghormati aturan dan prosesi adat yang berlangsung.

Apakah ada tiket masuk?

Pada umumnya tidak. Pawai berlangsung di jalan-jalan utama atau kawasan banjar sehingga masyarakat dan wisatawan dapat menyaksikannya secara gratis.

Apakah semua Ogoh-Ogoh dibakar?

Tidak selalu. Berdasarkan informasi yang tersedia, sebagian Ogoh-Ogoh dibakar setelah prosesi selesai sebagai bagian dari tradisi, sementara sebagian lainnya disimpan untuk keperluan tertentu, seperti pameran atau dokumentasi.

Apakah anak-anak boleh ikut menonton?

Boleh. Namun, karena suasana bisa sangat ramai, orang tua sebaiknya selalu mengawasi anak-anak dan memilih lokasi yang aman.

Penutup

Tradisi Ogoh-Ogoh Bali menawarkan pengalaman wisata budaya yang sulit ditemukan di tempat lain.

Selain menjadi bagian penting dari rangkaian Hari Raya Nyepi, pawai ini memperlihatkan kreativitas masyarakat Bali dalam menggabungkan seni, gotong royong, dan nilai-nilai spiritual ke dalam sebuah pertunjukan yang memukau.

Jika Anda berencana berkunjung ke Bali menjelang Nyepi, luangkan waktu untuk menyaksikan Tradisi Ogoh-Ogoh secara langsung.

Dengan memahami makna di balik prosesi dan menghormati adat setempat, pengalaman tersebut tidak hanya menjadi momen yang berkesan, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kekayaan budaya Pulau Dewata.