Ratusan Penumpang Kapal Pesiar Villa Vie Odyssey Terdampar
Ratusan penumpang kapal pesiar residensial Villa Vie Odyssey mendadak terdampar di Kamboja setelah pihak pengelola menghentikan operasional kapal secara tiba-tiba pekan ini. Kebijakan tersebut membuat para penghuni tetap kapal kehilangan tempat tinggal dan merasa terpukul.
Awal Mula Perjalanan dan Investasi Besar
Lanette Canen dan Johan Bodin, yang berusia 56 tahun, merupakan bagian dari ratusan tamu yang antusias memulai kehidupan baru di laut saat naik ke kapal pesiar dunia Villa Vie Odyssey pada Oktober 2024. Pasangan ini menjual bisnis mereka untuk mendanai kabin seharga 100.000 dolar AS (sekitar Rp1,5 miliar) di kapal tersebut, ditambah biaya perawatan bulanan sebesar 3.500 dolar AS (sekitar Rp55 juta).
Lanette menjalankan perusahaan penggantian kaca depan dari atas kapal, dan keduanya mendokumentasikan perjalanan mereka melalui kanal YouTube Living Life on a Cruise. Namun, kehidupan mereka berubah tidak pasti ketika perusahaan kapal pesiar Villa Vie Residences mengumumkan kepada para tamu bahwa mereka harus meninggalkan kapal di Kamboja. Perusahaan berdalih tingginya biaya bahan bakar memaksa mereka menghentikan pelayaran dan memasuki masa sandar sementara.
Pemberitahuan Mendadak dan Kurangnya Dukungan
Para tamu diberitahu pada pukul 06.00 pagi pada hari Senin bahwa mereka harus turun dari kapal paling lambat pukul 14.00 di hari yang sama. Kapal pesiar tersebut memiliki kapasitas 970 penumpang, tetapi terdapat 200 orang di atas kapal saat operasionalnya ditangguhkan.
Pasangan tersebut mengaku mengetahui bahwa kepergian dari kapal adalah sebuah kemungkinannya karena rumor mengenai kesulitan finansial telah beredar di antara para penghuni. Kendati demikian, pemberitahuan yang hanya berjarak delapan jam tetap mengejutkan mereka.
Baca Artikel Lainnya
- Bandara Mopa Goa Sambut Penerbangan Charter Pertama Kazakhstan ›
- Pemenang Penghargaan Business Traveller Awards 2026 ›
- Delhi Buka Kampanye SIR 2026, 3.000 Pemilih Ajukan Formulir 6 ›
- Wajah Baru Bandara Delhi, Karpet T3 Diperbarui ›
- Jarak, Rute, dan Transportasi dari Kochi ke Munnar ›
- Komitmen Cape Town Tourism dalam Aksesibilitas Situs Web ›
Lanette mengungkapkan bahwa reaksi langsung mereka adalah rasa patah hati yang mendalam karena harus meninggalkan rumah dan komunitas yang telah mereka bangun selama dua tahun terakhir. Sihanoukville, Kamboja, memang menjadi pemberhentian terakhir dalam jadwal perjalanan, tetapi para penumpang sama sekali tidak menduga akan tinggal di sana.
Menurut Lanette, pihak Villa Vie membantu menurunkan koper serta menyediakan bus antar-jemput dari dan ke pelabuhan, namun tidak memberikan bantuan biaya hotel. Ia menambahkan bahwa salah satu sesama penghuni telah menawarkan bantuan akomodasi kepada mereka yang kesulitan secara finansial dan berupaya mengatur penerbangan sewaan ke San Francisco.
Pihak Villa Vie belum memberikan tanggal pasti untuk kembali naik ke kapal. Terlepas dari apakah operasional akan dilanjutkan kembali atau tidak, pasangan tersebut memutuskan untuk melanjutkan hidup karena perusahaan berencana menaikkan biaya pemeliharaan yang dinilai akan memberatkan keuangan mereka.
Keluhan Mantan Penghuni dan Alasan Perusahaan
Sejumlah penghuni lainnya turut mengeluhkan minimnya komunikasi serta dukungan dari pihak lini pelayaran. Mantan penghuni bernama Sharon Lane, yang terpaksa meninggalkan kapal tahun lalu akibat masalah kesehatan, mengatakan bahwa teman-temannya di atas kapal kini berada dalam situasi bingung.
Seperti dilaporkan The Independent, Sharon menyampaikan bahwa komunikasi terus menjadi kendala dan ia sangat mengkhawatirkan teman-temannya yang harus mengurus transportasi, visa, serta perumahan dalam waktu sangat singkat. Dirinya sendiri membutuhkan waktu beberapa minggu untuk merencanakan kepulangannya, sementara para penghuni saat ini hanya diberi waktu beberapa jam.
Sharon masih memiliki kabin di kapal tersebut karena ketentuan kontraknya tidak mengizinkan kabin itu disewakan, sedangkan peluang penjualan saat ini terlihat kecil. Dirinya merasa telah kehilangan uang, dan menegaskan bahwa situasi ini menghancurkan bagi mereka yang menjual properti pribadi untuk membiayai hunian di kapal.
Sementara itu, Villa Vie Residences menyatakan dalam keterangan resminya bahwa mereka menangguhkan operasional demi menghindari pengalihan beban kenaikan biaya bahan bakar akibat perang Iran kepada para penumpang. Lini pelayaran tersebut menyatakan sedang mengevaluasi potensi langkah ke depan, kendati belum ada pembiayaan atau transaksi yang final.


