Daftar Isi
Pulau Turtle yang terletak di Kepulauan Yasawa, Fiji, menawarkan pengalaman liburan privat yang unik bagi para pasangan, sekaligus menjadi tempat bersejarah lokasi pengambilan gambar film ternama The Blue Lagoon. Destinasi seluas 500 ekar ini membatasi jumlah tamunya hingga 14 pasangan saja dalam satu waktu untuk menjaga suasana eksklusif.
Sejarah dan Konsep Eksklusif Turtle Island
Seperti dilaporkan Matador Network, perjalanan menuju pulau ini ditempuh menggunakan pesawat amfibi selama 30 menit dari Nadi di pulau utama Fiji. Setibanya di pantai, para staf menyambut tamu perempuan dengan menggendong mereka melewati perairan dangkal dalam balutan pakaian tradisional Fiji sambil menyanyikan lagu penyambutan.
Resort ini pertama kali dibuka untuk umum pada 1980 oleh seorang warga Amerika Serikat bernama Richard Evanson. Evanson membeli pulau tersebut pada 1972 dan mengalihfungsikan pondok-pondok yang awalnya dibangun untuk kru serta pemeran film The Blue Lagoon menjadi akomodasi tamu. Kebijakan resort ini sangat ketat dengan hanya menerima tamu pasangan dewasa sepanjang tahun, kecuali pada dua pekan khusus keluarga di bulan Desember dan Juni.
Kebudayaan Lokal dan Fasilitas Privat
Setiap pasangan yang menginap mendapatkan layanan dari seorang bure mama, yakni staf khusus yang membantu merencanakan kegiatan harian, menyiapkan makan siang, hingga mengurus pakaian. Para tamu juga disuguhkan berbagai aktivitas budaya Fiji, seperti upacara minum kava bersama seluruh staf resort setiap malam, pertunjukan tari tradisional meke, serta santap malam dengan teknik masak lovo yang menggunakan batu panas yang dikubur di dalam tanah. Selain itu, pengunjung dapat mempelajari cara pembuatan hidangan kokoda atau olahan ikan segar berkuah santan dan jeruk nipis, memetik kelapa, serta menganyam keranjang.
Untuk menjaga privasi, pulau ini menyediakan fasilitas piknik di pantai pribadi yang dilengkapi kursi bersantai, tempat tidur gantung, dan meja di bawah peneduh. Pasangan juga dapat menikmati santap malam romantis di atas dermaga terapung yang dihiasi lentera di tengah laguna.
Keberlanjutan Lingkungan dan Kesan Para Tamu
Turtle Island menerapkan prinsip keberlanjutan dengan memproduksi sebagian besar kebutuhan pangannya sendiri. Sebuah kebun sayur seluas lima ekar dengan 150 bedengan menyuplai sekitar 80 persen kebutuhan sayuran resort. Telur diproduksi dari peternakan ayam lokal, ikan ditangkap di sekitar perairan pulau, sementara garam dibuat sendiri dari air laut melalui proses pembuatan selama tiga hingga empat bulan. Saat pandemi terjadi dan kapal pasokan berhenti beroperasi, pengelola pulau sempat menjalankan toko kelontong terapung untuk memenuhi kebutuhan desa-desa sekitar.
Tingkat kunjungan kembali tamu ke tempat ini mencapai sekitar 60 persen. Brooke Kyle, seorang dokter kandungan asal Eugene, Oregon, membagikan pengalamannya saat kembali berkunjung bersama suaminya, Chris, untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-28 setelah sepuluh tahun berlalu. Brooke bahkan menemukan kembali batu berhias nama mereka yang diletakkan di pasir pantai satu dekade sebelumnya. Brooke menuturkan kepada Matador Network bahwa pulau tersebut tetap luar biasa dan memberikan mereka waktu berkualitas bersama sebelum kembali ke rutinitas pekerjaannya.
Sebelum meninggalkan pulau, setiap pasangan diajak untuk menanam pohon atau bunga sepatu di kawasan tersebut sebagai simbol keberlanjutan dan kenangan yang terus tumbuh.








