Kunjungan Wisman ke Bali Stabil 19-24 Ribu per Hari

Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan bahwa angka kedatangan wisatawan asing ke Pulau Dewata bertahan stabil di rentang 19.000 sampai 24.000 orang saban hari sepanjang 2026. Tingkat kunjungan harian tersebut dinilai menjadi indikator vital bagi pergerakan ekonomi daerah yang mengandalkan sektor pariwisata.

Pernyataan itu disampaikan Koster saat menghadiri acara peluncuran buku Kompas Moral Wartawan karangan jurnalis senior Emanuel Dewata Oja di Denpasar. Ia mengungkapkan, dinamika distribusi bahan bakar minyak yang sempat membuncah berhasil diredam sehingga tidak sampai mengganggu konsistensi kedatangan pelancong luar negeri.

Dampak Positif terhadap Hunian Hotel dan UMKM

Menurut Koster, arus kedatangan wisatawan asing memberikan dampak berantai terhadap beragam bidang usaha di Bali, mulai dari akomodasi, kuliner, hingga penyedia jasa perjalanan wisata. Ia mengamati tingkat keterisian kamar hotel saat ini berada di atas 90 persen, terutamanya pada jaringan hotel berbintang berbiaya tinggi.

“Tingkat huni hotel sekarang 90 persen lebih. Sekarang ini hotel yang mahal-mahal berbintang, malah lebih penuh, lebih sedikit. Hotelnya penuh, restorannya ramai, kemudian UMKM-nya berkembang, travelnya hidup. Semua rentetannya itu gerak,” kata Koster.

Koster memaparkan bahwa sepanjang 2025 Bali kedatangan sekitar 7,05 juta wisatawan mancanegara serta 9,3 juta wisatawan domestik. Kinerja kunjungan pada 2026 menunjukkan tren positif jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, bahkan melampaui capaian 2019 sebelum pandemi COVID-19 yang berada di kisaran 6,3 juta turis asing.

Peningkatan Penerimaan Daerah dan Kesetaraan Ekonomi

Geliat pariwisata ini turut mendongkrak penerimaan daerah lewat pajak usaha hotel dan restoran. Hingga 22 Oktober 2026, penerimaan daerah mencatatkan lonjakan sekitar Rp600 miliar jika disandingkan dengan periode serupa pada 2025.

Koster menganggap fondasi ekonomi Bali yang bertumpu pada pariwisata sanggup membagikan dampak ekonomi secara lebih berkeadilan bagi warga di seluruh kabupaten dan kota.

“Kita di Bali ini, ekonominya, ekonomi rakyat yang sebarannya lebih merata, dibandingkan dengan ekonomi yang berbasis pada sumber daya alam minyak, gas, tambang, batubara,” ungkapnya.

Ia menekankan perlunya mempertahankan iklim daerah yang aman dan nyaman serta koordinasi lintas sektor agar aktivitas ekonomi terus berputar dan menyokong taraf hidup masyarakat.