Event & Budaya

Konser Ye Bawa 25 Ribu Turis Asing ke Jakarta

Konser Ye Bawa 25 Ribu Turis Asing ke Jakarta

Jakarta membuktikan potensinya sebagai tuan rumah konser musisi global dengan menjadi satu-satunya kota di Asia Tenggara yang masuk dalam rangkaian tur Konser Ye pada tahun 2026. Pertunjukan musik bertajuk Ye Live in Jakarta yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada akhir pekan lalu (24/10/2026) tersebut sukses mendatangkan 25 ribu turis asing ke ibu kota.

Dampak Ekonomi dan Sektor Pariwisata

Perhelatan akbar yang dihadiri sekitar 70.000 penonton ini tidak hanya menjadi tontonan hiburan semata, tetapi juga membuka peluang besar bagi sektor pariwisata untuk menggaet wisatawan mancanegara. Fenomena ini memberikan warna baru setelah sebelumnya Indonesia hanya mendapat jatah satu hari dalam konser Coldplay pada 2023, serta absen dari daftar negara tujuan konser Taylor Swift pada 2024 ketika Singapura menggelar pertunjukan selama enam hari.

Kehadiran musisi internasional menggerakkan berbagai sektor perjalanan sekaligus, mulai dari akomodasi hotel, kuliner lokal, pusat perbelanjaan, hingga kunjungan ke berbagai destinasi wisata sekitar. Pakar pariwisata, Prof. Azril Azahari menyatakan bahwa konser Ye memiliki potensi ekonomi pariwisata yang sangat tinggi karena termasuk dalam kategori acara khusus atau special event.

Menurut Azril saat diwawancarai detikTravel, kegiatan khusus berskala internasional sangat berpeluang mendatangkan keuntungan finansial dengan pengunjung yang datang dari berbagai negara. Ia menyayangkan kegiatan semacam ini masih kurang mendapat perhatian optimal dari pemerintah secara nasional maupun global, padahal acara berskala dunia mampu menggerakkan banyak sektor sekaligus.

Lebih lanjut, Azril menjelaskan bahwa kehadiran Ye dapat memberikan pengaruh positif terhadap produk domestik bruto, tingkat okupansi hotel, serta pendapatan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Manfaat ekonomi tersebut dirasakan langsung oleh berbagai pihak, mulai dari pengelola hotel, restoran, penyedia transportasi, hingga para pedagang kecil di sekitar lokasi acara.

Strategi Memperkuat Posisi Jakarta

Dosen Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, turut memandang penyelenggaraan konser Ye sebagai momentum strategis bagi Jakarta untuk memperkuat statusnya sebagai destinasi pertunjukan musik dunia. Ia menyebutkan kepada detikTravel bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan semata, melainkan komponen penting dari industri pariwisata, ekonomi kreatif, serta pemasaran kota.

Deni berpendapat bahwa perbandingan durasi hari konser dengan Singapura tidak bisa dilakukan secara sederhana karena ada banyak faktor penentu bagi promotor. Faktor-faktor tersebut mencakup kapasitas penyelenggaraan, kepastian regulasi, konektivitas penerbangan, hingga ketersediaan fasilitas venue yang memadai.

Ia menyarankan agar Jakarta mampu memadukan antara pertunjukan musik internasional dengan kekuatan pasar domestik, kekayaan budaya Betawi, ragam kuliner Nusantara, wisata perkotaan, dan sektor ekonomi kreatif. Integrasi tersebut diharapkan mampu membuat wisatawan mancanegara memilih tinggal lebih lama dan menjelajahi berbagai sudut kota.

Berdasarkan laporan dari detikNews, estimasi total dampak ekonomi yang dihasilkan dari penyelenggaraan konser Ye di Jakarta mencapai angka Rp 450 miliar, dengan perolehan dari penjualan tiket sendiri menyentuh kisaran Rp 328 miliar. Jakarta tidak perlu meniru model negara lain secara mentah-mentah, melainkan harus membangun keunikan serta model penyelenggaraannya sendiri.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *