Travel News

Kebocoran Data Amadeus Berdampak pada 7 Maskapai Asia

Kebocoran Data Amadeus Berdampak pada 7 Maskapai Asia
Daftar Isi
  1. Rincian Jumlah Data Penumpang yang Terdampak
  2. Penyebab Akses Tanpa Izin dan Informasi yang Terekspos
  3. Langkah Penanganan dan Imbauan bagi Penumpang

Setidaknya tujuh maskapai penerbangan terkemuka di Asia mengonfirmasi bahwa data reservasi penumpang mereka berpotensi terekspos akibat insiden akses tanpa izin pada sistem Amadeus. Penyedia teknologi penerbangan berskala internasional yang berpusat di Spanyol tersebut memfasilitasi sistem pemesanan dan layanan penumpang bagi industri penerbangan global.

Maskapai yang terdampak dalam peristiwa ini mencakup Cathay Pacific, Japan Airlines (JAL), Japan Transocean Air (JTA), All Nippon Airways (ANA), Star Flyer, Korean Air, serta Asiana Airlines. Seperti dilaporkan Travel And Tour World, insiden ini tidak mengganggu jadwal penerbangan maupun operasional utama maskapai, namun para penumpang diimbau untuk mewaspadai potensi penyalahgunaan informasi reservasi.

Rincian Jumlah Data Penumpang yang Terdampak

Akses tanpa izin pada sistem Amadeus memengaruhi jumlah catatan pemesanan yang bervariasi pada masing-masing maskapai. JAL dan JTA mengonfirmasi secara kolektif bahwa sekitar 92.000 pelanggan mengalami potensi tereksposnya data reservasi yang dibuat antara 10 Agustus 2023 hingga 23 September 2026. Kelompok usaha JAL pertama kali menerima pemberitahuan resmi dari Amadeus pada 23 Oktober 2026 sebelum merilis pernyataan resmi pada 30 Oktober 2026.

Cathay Pacific melaporkan sekitar 53.000 catatan pemesanan terdampak oleh insiden keamanan ini. Maskapai yang berbasis di Hong Kong tersebut menerima pemberitahuan awal pada 28 Oktober 2026 dan rincian lanjutan pada 29 Oktober 2026, yang mencakup data transaksi periode Agustus 2023 hingga September 2026.

Sementara itu, ANA mengidentifikasi sebanyak 37.800 pelanggan yang terpengaruh dalam laporan terbarunya pada 30 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 36.100 pelanggan mengalami paparan data dasar pemesanan, sedangkan 1.700 pelanggan lainnya berpotensi mengalami paparan informasi pribadi yang lebih rinci. Di sisi lain, maskapai Star Flyer yang memanfaatkan teknologi Amadeus melalui kerja sama dengan ANA mengonfirmasi adanya potensi paparan data tetapi masih menghitung jumlah pasti pelanggan yang terdampak.

Korean Air dan Asiana Airlines juga mengonfirmasi paparan kode reservasi penumpang setelah menerima pemberitahuan resmi dari Amadeus pada 20 Oktober 2026. Kedua maskapai Korea Selatan tersebut telah melaporkan insiden ini kepada Komisi Perlindungan Informasi Pribadi Korea Selatan dan melanjutkan proses identifikasi.

Penyebab Akses Tanpa Izin dan Informasi yang Terekspos

Insiden ini dipicu oleh penyalahgunaan kredensial autentikasi pada akun sistem Amadeus, bukan hasil dari peretasan langsung terhadap basis data internal masing-masing maskapai. Penggunaan kredensial terkompromi ini memungkinkan pihak yang tidak berwenang mengakses informasi reservasi yang tersimpan dalam jaringan penyedia layanan teknologi tersebut.

Informasi yang terekspos umumnya mencakup nama penumpang, nomor referensi pemesanan (PNR), serta detail rincian penerbangan. Pada beberapa kasus terbatas, data yang terekspos juga mencakup alamat surel, nomor telepon, nomor paspor, kewarganegaraan, nomor program frequent flyer, hingga nomor kursi dan tiket elektronik.

Meski demikian, JAL, JTA, ANA, dan Cathay Pacific memastikan bahwa data sensitif seperti nomor kartu kredit dan kata sandi akun pelanggan tidak ikut terkompromi. Hingga saat ini, belum ditemukan bukti adanya penyalahgunaan keuangan langsung akibat kebocoran data ini.

Langkah Penanganan dan Imbauan bagi Penumpang

Menanggapi insiden tersebut, pihak Amadeus telah mencabut kredensial login yang terkompromi, mereset kata sandi, serta meningkatkan sistem pemantauan keamanan, termasuk pemantauan di jejaring dark web. Maskapai penerbangan yang terdampak juga telah mulai menghubungi para pelanggan yang teridentifikasi secara individual.

Penumpang diimbau untuk tetap waspada terhadap pesan, panggilan telepon, atau tautan mencurigakan yang mengatasnamakan pihak maskapai. Penyelidikan masih terus berlangsung untuk memastikan cakupan penuh dari data yang terekspos pada seluruh maskapai yang terlibat.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *