IndiGo Dorong Pendapatan Ekstra dari Setiap Penumpang

Maskapai penerbangan berbiaya hemat terbesar di India, IndiGo, berencana meningkatkan pendapatan dari setiap penumpang melalui penawaran kursi premium, layanan tambahan berbayar, serta program loyalitas. Langkah ini diambil oleh CEO Willie Walsh untuk memperkuat kinerja keuangan maskapai di tengah melonjaknya biaya operasional.

Strategi Peningkatan Pendapatan Maskapai

IndiGo selama ini membangun dominasinya di pasar domestik India dengan mengandalkan tarif terjangkau dan efisiensi biaya. Kini, perusahaan berupaya menerapkan strategi pendapatan sampingan serupa dengan yang dijalankan maskapai Ryanair. Meski demikian, Walsh mengakui bahwa regulasi penerbangan di India memberikan batasan tertentu terhadap skema tersebut dibandingkan dengan aturan yang berlaku di Eropa.

Rencana perubahan ini tidak akan mengubah fondasi utama perusahaan. Menyusul mundurnya mantan CEO Pieter Elbers, salah satu pendiri IndiGo, Rahul Bhatia, menyampaikan pada Mei lalu bahwa bisnis inti maskapai sebagai penyedia penerbangan berbiaya hemat dengan armada pesawat berlorong tunggal akan tetap dipertahankan.

Dalam panggilan konferensi terkait laporan keuangan perusahaan pada Kamis, Walsh menegaskan prioritas awal strateginya sebagai pimpinan eksekutif. “Ada ruang pertumbuhan di ketiga segmen tersebut — premium, pendapatan sampingan per penumpang dan dalam jangka lebih panjang loyalitas,” kata Walsh.

Kenaikan Biaya Bahan Bakar Tekan Finansial

Langkah mendorong pendapatan dari setiap penumpang dinilai kian mendesak akibat tekanan beban operasional. Pada kuartal yang berakhir September, pendapatan IndiGo sebenarnya tumbuh 26 persen. Namun, di saat yang sama, pengeluaran untuk bahan bakar melonjak hingga 67 persen.

Kondisi tersebut menyebabkan IndiGo mencatatkan kerugian bersih sekitar 18,8 miliar rupee India atau setara 197 juta dolar AS pada kuartal tersebut. Kerugian ini menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika maskapai membukukan kerugian bersih sebesar 25,8 miliar rupee atau setara 271 juta dolar AS.