Kesehatan

Bahaya Sering Berpikir Negatif Bagi Otak Menurut Dokter

Kebiasaan memelihara pikiran negatif atau meragukan kemampuan diri sendiri secara berulang ternyata memiliki dampak yang signifikan terhadap kerja otak. Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, menyampaikan bahwa organ otak manusia mempunyai mekanisme khusus yang membuat seseorang bisa terkecoh oleh pemikiran yang terus-menerus diputar di dalam kepala.

Mekanisme Efek Ilusi Kebenaran

Melalui unggahan di akun Threads pribadinya, dr. Adam menjelaskan fenomena tersebut berdasarkan temuan ilmiah dalam riset bertajuk Systematic review and meta-analysis of the evidence for an illusory truth effect and its determinants. Studi tersebut memperlihatkan bahwa pengulangan informasi, termasuk percakapan batin atau self-talk, membuat otak memproses informasi dengan lebih mudah hingga akhirnya memicu illusory truth effect atau efek ilusi kebenaran.

Ia mengungkapkan bahwa ketika sebuah anggapan terus diulang, otak akan mulai menganggap pemikiran tersebut sebagai sebuah kebenaran, meskipun kenyataannya tidak demikian.

“Gue berusaha mengurangi pikiran negatif setelah baca jurnal ini. Jadi ada penelitian yang menunjukkan bahwa otak kita bisa ‘tertipu’ oleh pikiran kita,” ungkap dr. Adam dalam utas di akun Threads miliknya.

“Kalau kita sering ‘mengulang’ suatu pemikiran, maka otak kita bisa percaya loh, termasuk pemikiran negatif. Meskipun pemikiran kita itu gak bener,” jelas dia.

Analogis Jalan Setapak di Hutan

Guna memberikan gambaran mengenai cara kerja jalur saraf di otak, dr. Adam mengibaratkan proses tersebut seperti lintasan jalan setapak yang berada di tengah hutan. Semakin sering lintasan itu dilewati, jalurnya akan bertambah lebar dan makin gampang dilalui.

Hal yang sama berlaku pada sistem saraf otak. Otak cenderung memilih anggapan yang sudah familier karena jalur sarafnya telah sering digunakan sehingga menjadi lebih kokoh.

“Contohnya, misalnya lo sering mikir kalo lo gak pinter, ya otak lo akan percaya itu. Otak lebih memilih rasa familiar karena jalur sarafnya sering dipakai, jadi lebih kuat. Ibaratnya kaya jalan setapak yang semakin lebar karena sering dilalui,” tutur dr. Adam.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *