Alaska Airlines Berencana Buka Rute Penerbangan Trans-Pasifik
Alaska Airlines berencana membuka rute penerbangan yang menghubungkan Anchorage dan Tokyo dengan melintasi Samudra Pasifik menggunakan pesawat Boeing 737. Meskipun jarak secara teori terlihat pendek, profil trans-Pasifik dan kewajiban menghindari wilayah udara Rusia membuat durasi serta jarak tempuh rute tersebut menjadi jauh lebih panjang dari perkiraan.
Tantangan Jarak dan Wilayah Udara Rusia
Menurut penerbit Business Class, Adam Natan, seperti dilaporkan Business Traveller, jarak di atas kertas rute tersebut mencapai 3.425 mil. Namun, jalur terpendek sebenarnya melintasi kawasan Kamchatka dan Kepulauan Kuril, sementara maskapai penerbangan asal Amerika Serikat tidak diizinkan melintasi wilayah udara Rusia. Kondisi ini memaksa pesawat untuk mengambil jalur memutar sehingga jarak tempuhnya melampaui 3.750 mil, dengan pilihan bandara darurat di sepanjang jalur meliputi wilayah seperti Cold Bay dan Adak.
Baca Artikel Lainnya
- LOT dan Thai Airways Rencanakan Kerja Sama Codeshare ›
- Benidorm Larang Skuter Mobilitas Ganda Demi Keselamatan ›
- Air India Express Buka Rute Mangaluru-Ras Al Khaimah ›
- Pemilu Israel Buntu, Apple Rilis Pembaruan dan Jam Tangan Eror ›
- Seragam Baru Awak Kabin PIA Karya Desainer Terkenal HSY ›
- Spanyol Hadapi Gangguan Kereta Usai Kecelakaan Maut Toledo ›
Diskusi Mengenai Opsi Pendaratan Darurat
Kompleksitas rute penerbangan tersebut memicu perbincangan mengenai opsi pendaratan darurat dalam sebuah utas di platform X yang diinisiasi oleh akun @InfantryPilot. Akun tersebut dikenal sebagai seorang kapten pesawat Airbus A330 yang memiliki pengalaman melintasi kawasan Pasifik.
Para pengamat dalam diskusi tersebut membandingkan ketersediaan bandara di kawasan Amerika Utara pada rute Alaska menuju New York atau Reykjavík dengan fasilitas bandara alternatif yang jauh lebih terbatas di sepanjang jalur penyeberangan Pasifik Utara. Diskusi di media sosial tersebut juga menyoroti bagaimana cuaca musim panas di Narita serta kondisi fasilitas bandara alternatif di Kepulauan Aleut dapat berdampak langsung pada operasional penerbangan.


