Pendiri pendamping Merlin AI, Siddharth Saxena, berhasil mengubah perjalanan hidupnya dari sebuah kota kecil bernama Alwar di Rajasthan, India, menjadi pengembang salah satu ekstensi peramban berbasis kecerdasan buatan (AI) terpopuler di dunia. Lulusan Ilmu Komputer dari IIT Kanpur tahun 2019 tersebut membagikan sejumlah pengalaman berharga mengenai proses membangun usaha dari nol hingga perusahaannya mencapai valuasi sekitar 50 juta dolar AS.
Mengasah Keterampilan dan Kesiapan Produk
Setelah lulus kuliah, Saxena tidak langsung mendirikan perusahaan. Ia mengumpulkan pengalaman selama beberapa tahun sebagai insinyur pembelajaran mesin (machine learning) di berbagai organisasi global, seperti Envestnet, Yodlee, Wadhwani AI, Aalto University di Finlandia, serta Jumio Corporation di Kanada. Fondasi teknis yang kuat ini menjadi landasan utama yang memungkinkannya membangun Merlin AI.
Selain persiapan teknis, Saxena bersama dua pendiri pendamping lainnya, Pratyush Rai dan Sirsendu Sarkar, melewati berbagai ide dan iterasi yang sempat gagal sebelum akhirnya meluncurkan Merlin AI. Ekstensi peramban ini menawarkan 26 fitur AI dalam satu alat, akses ke berbagai model AI, serta pembuat konten dalam 128 bahasa. Merlin AI resmi meluncur pada 2022 saat gelombang AI generatif mulai berkembang pesat.
Kombinasi antara momentum yang tepat dan keahlian teknis membuat tim Merlin AI bergerak lebih cepat dibandingkan para pesaing. Produk ini berhasil mencatatkan 750.000 instalasi dalam waktu enam bulan dengan pertumbuhan organik mencapai 95 persen, serta diproyeksikan menjangkau sekitar 900.000 pengguna pada 2026.
Mengubah Pola Pikir dan Menghargai Proses
Dalam wawancaranya dengan pembuat konten Viraj Ala, Saxena menjelaskan pentingnya mengubah pola pikir dari scarcity mindset (pola pikir serba kekurangan) menjadi abundance mindset (pola pikir kelimpahan). Tumbuh di India dengan sumber daya terbatas kerap memunculkan rasa takut gagal, kecenderungan menghindari risiko, serta tekanan ekspektasi keluarga terkait kerugian finansial. Menurutnya, wirausahawan perlu berani mengambil risiko terukur dan fokus membangun hal yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan apa yang ada.
Saxena juga meluruskan anggapan tentang keberhasilan instan setelah sosoknya viral lantaran menghasilkan “8 juta dolar AS dalam sehari”. Angka tersebut sebenarnya merujuk pada peristiwa pendanaan yang meresmikan kepemilikan sahamnya di Merlin AI pada usia 26 tahun. Pencapaian itu merupakan hasil dari proses panjang selama lebih dari tujuh tahun yang mencakup pendidikan, karier profesional, kegagalan proyek awal, dan iterasi tanpa henti.
Ketika ditanya apakah dirinya saat berusia remaja akan mempercayai pencapaiannya saat ini, Saxena memberikan jawaban singkat, “Absolutely not.” Perjalanan hidupnya menegaskan bahwa keberhasilan startup membutuhkan proses belajar, adaptasi, dan kesabaran hingga kesempatan emas itu akhirnya datang.








