Tiga individu orang utan dilaporkan masih bertahan hidup di area hutan dan semak belukar yang terdampak kebakaran di dekat Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Satwa dilindungi ini diduga terpaksa mendekati kebun warga untuk mencari perlindungan dan sumber makanan akibat rusaknya habitat asli mereka.
Kondisi Habitat yang Rusak
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit, Muriansyah, menyatakan bahwa informasi mengenai keberadaan orang utan tersebut diperoleh dari kepala desa dan warga setempat. Laporan ini diterima petugas saat melakukan observasi di lokasi pasca-penemuan seekor anak orang utan beberapa waktu lalu.
“Dari laporan Kades dan juga warga yang kami temui di lokasi, dilaporkan masih ada sekitar paling sedikit tiga individu orang utan yang berada di hutan ataupun semak belukar, khususnya yang berada di tepi Sungai Sampit,” ujar Muriansyah seperti dilaporkan Travel – Detikcom.
Berdasarkan pengamatan petugas, sebagian besar tutupan hutan di wilayah tersebut telah hangus dilalap api. Kebakaran bahkan merembet hingga ke area ladang dan kebun milik masyarakat. Hingga saat ini, petugas masih menemukan sejumlah titik yang mengeluarkan asap di area tersebut.
Potensi Konflik dengan Manusia
Rusaknya habitat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi penyebab utama satwa liar tersebut bergerak mendekati kawasan perkebunan warga. Kondisi ini dikhawatirkan meningkatkan risiko interaksi antara orang utan dengan manusia.
Pihak BKSDA Pos Sampit saat ini terus melakukan pemantauan dan observasi lanjutan guna mengantisipasi kemunculan orang utan di sekitar permukiman. “Sampai dengan hari ini, lokasi tadi tetap kami lakukan kegiatan pemantauan dan direncanakan beberapa hari yang akan datang kami juga akan melakukan kegiatan pemantauan lagi di sana,” jelas Muriansyah.
Sebelumnya, seekor anak orang utan betina berusia sekitar empat tahun ditemukan warga dalam kondisi sendirian di tepi jalan Desa Bagendang Tengah pada Sabtu (31/10/2026). Satwa tersebut kemudian diserahkan oleh warga kepada petugas BKSDA Pos Sampit setelah sebelumnya diamankan oleh pemerintah desa.
BKSDA mengimbau masyarakat untuk tidak menangkap, mendekati, atau mengganggu orang utan jika kembali terlihat di sekitar kebun. Warga diminta segera melaporkan temuan tersebut kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur demi menjaga keselamatan warga serta mencegah satwa mengalami stres atau luka akibat interaksi dengan manusia.







