Akomodasi & Hotel

Industri Hotel Indonesia Bidik Peluang Baru pada 2027

Industri Hotel Indonesia Bidik Peluang Baru pada 2027
Daftar Isi
  1. Kinerja Sektor Perhotelan yang Meningkat
  2. Potensi Destinasi di Luar Bali
  3. Pentingnya Ekosistem Pariwisata

Industri perhotelan di Indonesia diproyeksikan terus menunjukkan pertumbuhan positif hingga tahun 2027. Tren ini didorong oleh peningkatan signifikan dalam perjalanan wisatawan domestik maupun kunjungan turis mancanegara yang dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, akses transportasi, dan daya tarik destinasi.

Kinerja Sektor Perhotelan yang Meningkat

Data mencatat sebanyak 10,58 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026, meningkat 5,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842 juta perjalanan, tumbuh 4,2 persen dan menjadi capaian tertinggi untuk periode tersebut sejak 2019.

Peningkatan aktivitas wisata ini berdampak langsung pada kinerja hotel. Berdasarkan data CoStar per 30 September 2026, rata-rata tarif harian hotel di Indonesia naik 12,3 persen secara tahunan menjadi USD 78 atau sekitar Rp 1,42 juta. Pendapatan per kamar tersedia juga meningkat 9,8 persen menjadi USD 47 atau sekitar Rp 853 ribu, dengan tingkat okupansi hotel berada di kisaran 60 persen.

Managing Director Southeast Asia and Korea IHG Hotels and Resorts, Vivek Bhalla, menyatakan bahwa perjalanan domestik tetap menjadi penggerak utama pariwisata Indonesia. “Permintaan dari wisatawan mancanegara juga terus meningkat,” ujar Vivek dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Potensi Destinasi di Luar Bali

Kawasan Asia Pasifik menjadi pasar krusial bagi pertumbuhan perhotelan Indonesia. Sebanyak 91 persen pertumbuhan kunjungan wisatawan di kawasan tersebut pada 2026 berasal dari perjalanan antarnegara. Vivek menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan pergeseran tren pariwisata ke arah Timur.

Meskipun Bali masih menjadi pusat pariwisata utama, peluang pertumbuhan kini mulai meluas ke destinasi lain seperti Lombok, Labuan Bajo, Yogyakarta, Medan, dan Manado. Menurut Vivek, minat wisatawan terhadap wilayah di luar Bali, Jakarta, dan Bandung terus meningkat, namun pengembangan kawasan tersebut memerlukan kesiapan infrastruktur dan akses transportasi yang memadai.

Sebagai contoh, penyelenggaraan MotoGP di Mandalika menunjukkan adanya permintaan tinggi terhadap Lombok. Vivek mencatat pola perjalanan di mana sejumlah pengunjung memilih menginap di Bali sebelum melanjutkan perjalanan ke Lombok. “Untuk setiap brand yang masuk ke suatu destinasi, dibutuhkan skala pasar tertentu agar dapat beroperasi dengan baik,” jelasnya.

Pentingnya Ekosistem Pariwisata

Director of Operations Indonesia IHG Hotels and Resorts, Anil Pathak, menekankan bahwa pengembangan hotel di destinasi baru harus dibarengi dengan kesiapan ekosistem pariwisata yang mencakup infrastruktur, konektivitas penerbangan, akses menuju objek wisata, hingga pemasaran daerah.

“Pariwisata bergantung pada kombinasi infrastruktur, konektivitas, akses, dan pengalaman tamu. Semakin cepat hal-hal tersebut berkembang, semakin baik bagi sektor pariwisata,” tutur Anil. Ia menambahkan bahwa promosi yang lebih terarah diperlukan agar destinasi yang sedang berkembang dapat lebih dikenal, sementara ketersediaan hotel harus diimbangi dengan pilihan aktivitas wisata yang menarik agar wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *