Kesehatan

Mengenal Apa Itu NPD Superior yang Disorot di Kasus Madiun

Kasus pembunuhan seorang perempuan dan balita berusia empat tahun di Madiun, Jawa Timur, menyita perhatian publik setelah tersangka berinisial Dwi Bagus Martono menghabisi nyawa istri sirinya, Dini Hardiyanti, serta anak mereka, Arshaka Ghafa El Faezya. Polda Jawa Timur mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan psikologis menunjukkan tersangka memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD) dengan rasa superioritas yang berlebihan.

Kondisi tersebut memicu rasa penasaran masyarakat mengenai arti NPD superior, ciri-cirinya, serta perbedaannya dengan sifat sombong biasa berdasarkan penjelasan dari Wiselaw.

Mengenal Apa Itu NPD Superior

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai pola menetap berupa rasa penting diri yang berlebihan, kebutuhan kuat akan kekaguman, serta kesulitan memahami atau berempati terhadap perasaan orang lain. American Psychiatric Association (APA) menyatakan bahwa pengidap NPD dapat memandang diri mereka lebih istimewa dibandingkan orang lain dan pantas mendapat perlakuan khusus.

Istilah NPD superior sendiri umumnya dipakai untuk menggambarkan karakter narsistik dengan kecenderungan grandiose atau superioritas yang menonjol, atau yang dalam literatur psikologi lebih dikenal sebagai grandiose narcissism. Pola ini tampak melalui sikap merasa lebih hebat, mendominasi, membutuhkan pengakuan, dan menganggap diri sendiri lebih penting daripada orang lain.

Meskipun demikian, NPD superior bukanlah nama diagnosis tersendiri dalam DSM-5-TR. NPD merupakan diagnosis klinis, sementara grandiose adalah salah satu gambaran atau dimensi ekspresi narsisme.

Ciri-Ciri NPD dengan Kecenderungan Superioritas

Individu dengan karakter narsistik grandiose dapat memperlihatkan sejumlah perilaku yang berkaitan dengan rasa superioritas. Karakteristik pertama adalah merasa dirinya paling hebat, di mana seseorang memiliki pandangan berlebihan terhadap kemampuan, pencapaian, atau kedudukannya serta mengharapkan pengakuan atas kelebihan tersebut.

Ciri berikutnya adalah sulit menerima kritik karena masukan dapat dianggap sebagai serangan terhadap harga dirinya, yang membuat pengidapnya bersikap defensif, merendahkan pihak yang mengkritik, atau sulit mengakui kesalahan. Selain itu, terdapat kebutuhan yang sangat kuat untuk mendapatkan pujian dan kekaguman dari orang lain serta merasa tidak dihargai ketika tidak mendapat pengakuan sesuai harapan.

Karakteristik lain meliputi perasaan berhak mendapatkan perlakuan khusus atau sense of entitlement, kurang mempertimbangkan perasaan orang lain akibat kesulitan berempati, serta kecenderungan mendominasi hubungan interpersonal dengan mengendalikan keputusan dan mengharapkan orang lain mengikuti kehendaknya. Kendati demikian, berbagai karakteristik tersebut tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami NPD tanpa melalui pemeriksaan profesional.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *