Event & Budaya

Menyelami 6 Festival Budaya Ikonik di Kawasan Asia Selatan

Menyelami 6 Festival Budaya Ikonik di Kawasan Asia Selatan
Daftar Isi
  1. Durga Puja di Kolkata
  2. Tahun Baru Bengali di Dhaka
  3. Indra Jatra di Kathmandu
  4. Tshechu di Bhutan
  5. Kandy Esala Perahera dan Vesak di Sri Lanka
  6. Festival Tradisional Maladewa

Perayaan budaya di berbagai wilayah Asia Selatan menawarkan cara bagi para pelancong untuk memahami suatu destinasi melampaui monumen dan pemandangan alamnya. Mulai dari kota yang sibuk hingga pulau-pulau yang tenang, festival-festival ini menghidupkan ruang publik dengan ritual, musik, dan seni yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Durga Puja di Kolkata

Durga Puja mengubah peta Kota Kolkata melalui jaringan pandal, kerumunan yang memadati jalanan, serta dentuman drum dhaak yang menggema di atas lalu lintas. Struktur sementara yang terbuat dari bambu, kain, dan patung berdiri megah, menampilkan karya seni kontemporer hingga tempat suci tradisional. UNESCO memasukkan Durga Puja di Kolkata ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Manusia pada tahun 2021 sebagai bentuk pengakuan atas pertemuan seni publik dan perayaan keagamaan.

Proses pembuatan patung dimulai jauh-jauh hari di Kumartuli, perkampungan pematung bersejarah di Kolkata. Para perajin membentuk kerangka jerami, melapisi tanah liat, hingga mengecat mata sang dewi dalam sebuah tradisi yang dijaga lintas generasi. Desain pandal sendiri telah menjadi bentuk seni tersendiri yang mengeksplorasi tema-tema kontemporer. Menurut studi British Council yang dilaporkan Today’s Traveller, industri kreatif yang berkaitan dengan Durga Puja menyumbang sekitar Rp60 triliun atau 2,58 persen dari Produk Domestik Bruto Bengal Barat pada tahun 2019.

Tahun Baru Bengali di Dhaka

Setiap tanggal 14 April, perayaan Pahela Baishakh membawa semangat Tahun Baru Bengali ke jalan-jalan dan taman di Dhaka. Musik, topeng buatan tangan, pameran kerajinan tangan, dan makanan tradisional mengubah kawasan sekitar Ramna, Shahbagh, dan Universitas Dhaka menjadi pusat berkumpulnya budaya. Busana berwarna merah dan putih memperkuat identitas visual perayaan ini, sementara lantunan lagu pagi di Ramna Batamul yang diselenggarakan oleh Chhayanaut mengawali hari dengan penuh refleksi.

Di Fakultas Seni Rupa Universitas Dhaka, para mahasiswa dan seniman mempersiapkan figur hewan raksasa, topeng, serta bentuk-bentuk pahatan yang terinspirasi dari tradisi rakyat Bengali. Prosesi ini dimulai pada tahun 1989 dan mendapatkan pengakuan internasional ketika UNESCO mendaftarkan Mangal Shobhajatra pada tahun 2016. Perayaan ini juga diwarnai dengan tradisi perdagangan Halkhata, di mana para pedagang membuka buku catatan baru dan memperbarui hubungan dengan para pelanggan di awal tahun.

Indra Jatra di Kathmandu

Kalender festival Kathmandu sangat lekat dengan alun-alun bersejarah, tempat suci, dan lorong-lorong sempitnya. Selama perayaan Indra Jatra yang umumnya diadakan pada bulan September, kota tua bertransformasi menjadi lanskap seremonial ketika kereta kera, penari bermasker, dan pemain drum bergerak di antara bangunan-bangunan kuno. Perayaan delapan hari ini berakar kuat dalam budaya Newar untuk menghormati Indra, dewa yang diasosiasikan dengan hujan dan surga.

Tiang kayu seremonial didirikan di Basantapur dekat kompleks istana Hanuman Dhoka untuk menandai dimulainya rangkaian acara. Tarian Lakhey menampilkan para penari yang mengenakan topeng dramatis dan kostum berwarna cerah mengikuti irama perkusi tradisional. Selain itu, prosesi kereta Kumari yang merupakan Dewi Hidup Kathmandu menjadi salah satu upacara paling sakral yang didampingi oleh kereta-kereta yang lebih kecil untuk Ganesh dan Bhairav.

Tshechu di Bhutan

Pertunjukan publik di Bhutan digelar dengan berlatar belakang lanskap benteng dzongs, kompleks biara, dan lembah pegunungan. Festival keagamaan tshechu yang diasosiasikan dengan Guru Rinpoche atau Padmasambhava menampilkan tarian topeng, musik seremonial, dan busana tradisional berwarna cerah. Perayaan di Paro, Thimphu, Punakha, dan Trongsa menarik kehadiran keluarga lokal serta para pengunjung.

Paro Tshechu yang didirikan pada abad ketujuh belas berlangsung selama lima hari dengan tarian cham yang dibawakan oleh para biksu dan penari awam terlatih. Menjelang fajar pada pagi terakhir, sebuah tekstil keagamaan berukuran besar yang disebut thongdrel dibentangkan agar umat dapat melihat dan menerima berkah. Tradisi penting lainnya adalah Drametse Ngacham, tarian topeng suci dari Bhutan timur yang telah didaftarkan oleh UNESCO pada tahun 2008.

Kandy Esala Perahera dan Vesak di Sri Lanka

Sri Lanka menyelenggarakan pawai malam berskala besar melalui Kandy Esala Perahera yang biasanya dihelat pada bulan Juli atau Agustus. Festival ini mengubah jalan-jalan di sekitar Kuil Gigi Suci, Sri Dalada Maligawa, menjadi barisan prosesi yang mencerminkan warisan Buddha dan sejarah Kandy sebagai ibu kota kerajaan terakhir. Para penabuh drum Kandyan, pembawa obor, penari, dan gajah yang dihiasi atribut seremonial berparade melintasi kota.

Sementara itu, Kota Kolombo menyuguhkan suasana perayaan yang berbeda saat Hari Raya Vesak di bulan Mei. Rumah-rumah, tempat usaha, dan kuil memamerkan lentera warna-warni serta instalasi thorana bercahaya yang menceritakan kisah-kisah tradisional Buddha. Di pos-pos dansal, para relawan membagikan makanan dan minuman secara cuma-cuma kepada para warga dan pengunjung yang memadati kawasan tersebut.

Festival Tradisional Maladewa

Di pulau-pulau berpenghuni di Maladewa, festival komunal memperlihatkan dunia budaya yang dibentuk oleh kehidupan maritim dan cerita rakyat. Selama Bodu Eid, perayaan lokal Iduladha, masyarakat berkumpul untuk mengikuti permainan, menikmati hidangan bersama, serta menyaksikan pertunjukan di ruang terbuka dekat laut. Irama musik Bodu Beru yang bertenaga, pertunjukan Bandiyaa Jehun dengan kendi, serta Dhandi Jehun yang menggunakan tongkat menjadi bagian dari tradisi yang hidup.

Salah satu perayaan yang paling mencolok adalah Bodu Mas atau “ikan besar”, di mana warga membuat ikan raksasa dari daun kelapa tenun dan membawanya berkeliling kampung. Para penari Maali Neshun turut mendampingi pertunjukan dengan mengenakan kostum roh atau makhluk supernatural. Rangkaian tradisi ini memberikan wawasan bagi para pelancong untuk melihat Maladewa sebagai tempat bersemunya komunitas yang gigih merawat warisan leluhur mereka.

Seluruh instalasi perayaan pada akhirnya akan diturunkan dan musik perlahan mereda hingga rute harian kembali normal. Namun, pengalaman mendalam dari interaksi bersama para perajin, penari, keluarga, dan komunitas lokal meninggalkan kesan yang abadi tentang suatu destinasi.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *