Travel News

Sektor Perhotelan Filipina Andalkan Disiplin Tarif Kamar

Sektor Perhotelan Filipina Andalkan Disiplin Tarif Kamar
Daftar Isi
  1. Dinamika Tarif di Kawasan Asia Pasifik
  2. Konvergensi Pasar Asia Tenggara
  3. Strategi Metro Manila dan Prospek Cebu

Sektor perhotelan Filipina mempertahankan kinerjanya melalui disiplin tarif rata-rata harian atau average daily rate (ADR), permintaan domestik yang tangguh, serta gelombang inventaris kelas atas dan mewah yang akan datang. Hal tersebut disampaikan oleh direktur penjualan STR dan CoStar untuk wilayah Asia Selatan dan Tenggara, Harry Tarjanto, dalam pemaparan industri di acara HoSkar Night Manila pada Kamis (29/10).

Dinamika Tarif di Kawasan Asia Pasifik

Menurut laporan Tarjanto kepada Travel Daily Media, kinerja tingkat atas di seluruh kawasan Asia Pasifik didorong terutama oleh peningkatan tarif dibandingkan volume kamar yang agresif. Konfirmasi kenaikan ADR dari tahun ke tahun terlihat mencolok di Indonesia dan Korea Selatan yang sama-sama mencatat pertumbuhan sebesar 13 persen, didukung oleh segmen liburan yang kuat serta kalender acara yang padat. Sebaliknya, Filipina mencatat ekspansi ADR yang lebih moderat sebesar 5 persen, menempatkannya di papan tengah di bawah pasar seperti India dan Jepang.

Singapura dan Jepang terus mendominasi tingkat okupansi mutlak masing-masing di angka 81 persen dan 78 persen, namun menunjukkan sedikit pergerakan tahun-ke-tahun karena keduanya telah mencapai titik plateau. Tarjanto menjelaskan bahwa kedua pasar tersebut telah mencapai batas teknis sehingga menyisakan sedikit ruang untuk pertumbuhan volumetrik. Di sisi lain, destinasi berkembang seperti Vietnam dan Selandia Baru mencatat kenaikan okupansi yang signifikan seiring pemulihan rute penerbangan internasional.

Konvergensi Pasar Asia Tenggara

Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam tampil sebagai pemimpin regional dengan lonjakan pendapatan per kamar yang tersedia atau RevPAR sebesar 19,2 persen. Tarjanto memuji kebijakan visa progresif Hanoi yang berhasil membuka konektivitas jarak jauh dan menarik pelancong bernilai tinggi dari Tiongkok, India, serta Rusia. Tren historis menempatkan Singapura sebagai tolok ukur okupansi abadi, diikuti oleh Thailand, sementara Vietnam menjadi satu-satunya pasar Asia Tenggara yang mencatat tren naik tanpa gangguan.

Tarjanto juga menyoroti adanya konvergensi di mana Vietnam, Filipina, dan Indonesia kini mencatat tingkat okupansi yang hampir setara di kisaran 60 persen. Kesetaraan ini menandakan persaingan sub-regional yang jauh lebih ketat di mana destinasi bersaing dalam margin yang sempit. Di pasar domestik Filipina, permintaan melampaui pasokan baru meskipun lalu lintas internasional yang masuk datang lebih lambat dari perkiraan, menjadikan pelancong korporat domestik dan MICE lokal sebagai penopang operasional utama dengan okupansi nasional rata-rata mencapai 61 persen selama dua belas bulan terakhir.

Strategi Metro Manila dan Prospek Cebu

Meskipun pemesanan korporat skala besar di Metro Manila melunak, ibu kota tersebut tetap mempertahankan keunggulan kompetitif berkat infrastruktur bisnis kelompoknya. Properti di koridor Teluk Manila dengan fasilitas konvensi luas terus menarik lalu lintas kelompok sepanjang tahun. Pola mingguan menunjukkan kenaikan okupansi terkonsentrasi pada hari Rabu dan Kamis, di mana tarif ADR mencapai puncaknya seiring perpaduan lalu lintas korporat pertengahan pekan dengan masa inap akhir pekan.

Tarjanto membandingkan Manila dengan Jakarta yang sama-sama mengandalkan ketahanan tarif untuk mempertahankan hasil di tengah lambatnya penyerapan okupansi. Di tengah kenaikan biaya operasional akibat faktor makroekonomi seperti inflasi dan suku bunga pinjaman, para pelaku hotel tetap mempertahankan disiplin penetapan harga alih-alih memberikan diskon untuk mendongkrak volume. Sementara itu di luar ibu kota, Cebu saat ini tertinggal dalam perolehan ADR murni karena destinasi pulau pesaing memiliki konsentrasi vila pantai ultra-mewah yang lebih padat untuk pelancong rekreasi internasional.

Kendati demikian, Tarjanto menyampaikan pandangan optimis mengenai prospek jangka menengah negara tersebut. Dengan adanya pipa proyek pembangunan kelas atas dan mewah yang dijadwalkan masuk ke destinasi liburan utama maupun pusat perkotaan, pasar domestik dinilai siap untuk menjaring pelancong internasional berimbal hasil lebih tinggi guna memperkecil kesenjangan dengan kantong-kantong resor utama di Asia Tenggara.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *