Daftar Isi
Alaska Air Group mengumumkan rencana untuk memangkas sekitar 200 posisi non-kontrak di tengah lonjakan biaya bahan bakar yang mengancam kinerja keuangan dan ekspansi internasional perusahaan. Seperti dilaporkan Travel And Tour World, grup penerbangan asal Amerika Serikat tersebut memperingatkan bahwa tekanan biaya yang persisten dapat memicu kerugian pra-pajak sebesar 700 juta dolar AS pada tahun 2026.
Tekanan Biaya Bahan Bakar dan Peringatan Kerugian
Peringatan terbaru ini mencerminkan lingkungan keuangan yang semakin sulit bagi industri penerbangan Amerika Serikat. Manajemen perusahaan dihadapkan pada kombinasi harga bahan bakar jet yang tinggi, ketidakpastian geopolitik, biaya integrasi, dan kebutuhan investasi yang substansial.
Chief Executive Officer Ben Minicucci menyampaikan keseriusan situasi tersebut kepada para karyawannya pada 30 Oktober 2026. Ia memperingatkan bahwa tekanan finansial yang terus berlanjut dapat menghasilkan kerugian sebesar 700 juta dolar AS selama tahun tersebut.
Dalam komunikasi internal kepada pegawai, Minicucci menyatakan, “If current conditions persist, we could lose as much as $700 million this year.” Ia menggambarkan potensi hasil tersebut sebagai kerugian pra-pajak penyesuaian pertama perusahaan di luar periode pandemi sejak tahun 2003.
Konflik di Timur Tengah telah mengganggu pasar energi dan mengintensifkan volatilitas harga bahan bakar. Akibatnya, maskapai penerbangan menghadapi kesulitan besar dalam mengubah permintaan penumpang menjadi laba operasional yang berkelanjutan.
Alaska Air Group memperkirakan pengeluaran bahan bakar tahun 2026 akan melampaui rencana keuangan awal sebesar 1,8 miliar dolar AS. Perusahaan kini mengantisipasi biaya bahan bakar ekonomi antara 4,65 dolar AS hingga 4,85 dolar AS per galon pada kuartal keempat.
Pemangkasan Tenaga Kerja dan Restrukturisasi
Peringatan finansial tersebut diterjemahkan menjadi perubahan organisasi langsung di seluruh Alaska Air Group. Pada 30 Oktober, perusahaan mengumumkan rencana untuk menghapus sekitar 200 posisi non-kontrak yang mencakup fungsi manajemen dan administrasi.
Pengurangan tersebut mewakili kurang dari satu persen dari total tenaga kerja yang berjumlah sekitar 32.500 karyawan. Rincian geografis yang dipublikasikan mengidentifikasi 125 posisi di negara bagian Washington dan 48 di Hawaii.
Karyawan yang terdampak telah diberi tahu bahwa pemutusan hubungan kerja akan mulai berlaku pada 13 November 2026, dengan pembayaran gaji yang tetap dilanjutkan hingga 31 Desember. Maskapai juga menyiapkan pengaturan pesangon dan bantuan transisi bagi pekerja yang memenuhi syarat.
Restrukturisasi ini turut berdampak pada anak usaha Hawaiian Airlines yang sedang dalam proses integrasi. Hawaiian Airlines mengidentifikasi 48 posisi yang terdampak di Hawaii, di mana sekitar 40 peran akan dihilangkan dan delapan pegawai akan dialihkan ke posisi lain.
Selain itu, perubahan kepemimpinan di Hawaiian Airlines diumumkan menjelang pensiunnya Kepala Operasi Jim Landers dan Kepala Operasi Tamu Shelly Parker pada akhir tahun 2026. Akuisisi senilai sekitar 1,9 miliar dolar AS tersebut sebelumnya telah diselesaikan pada 18 September 2024 untuk memperluas konektivitas Pasifik.
Kinerja Keuangan Kuartal Ketiga
Hasil keuangan kuartal ketiga Alaska Air Group memberikan konteks penting mengenai tantangan yang dihadapi perusahaan. Untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 30 September 2026, grup ini mencatat pendapatan sebesar 4,3 miliar dolar AS atau meningkat 14 persen dibanding periode yang sama pada 2025.
Meskipun permintaan penumpang relatif kuat dan pendapatan dari lini bisnis premium meningkat pesat, perusahaan melaporkan rugi bersih GAAP sebesar 147 juta dolar AS. Rugi bersih yang disesuaikan mencapai 35 juta dolar AS, sementara pendapatan dari program loyalitas melonjak 21 persen menjadi 721 juta dolar AS.
Di tengah tekanan biaya tersebut, Alaska Air Group menegaskan bahwa ekspansi internasional tetap menjadi prioritas strategis jangka panjang. Perusahaan bertekad mengubah Bandara Internasional Seattle-Tacoma menjadi gerbang global utama dengan target setidaknya 15 destinasi jarak jauh internasional dari Seattle pada tahun 2030.
Krisis bahan bakar yang melanda Alaska Air Group bukanlah kasus yang terisolasi di industri penerbangan AS, di mana maskapai besar lainnya seperti American Airlines, Delta Air Lines, Southwest Airlines, dan United Airlines menghadapi ketidakpastian serupa. Kendati demikian, Alaska Air Group masih memiliki cadangan likuiditas sekitar 3,3 miliar dolar AS per 30 September 2026 untuk melindungi operasionalnya.
Bulan-bulan mendatang akan menjadi penentu bagi Alaska Air Group dalam menavigasi harga bahan bakar yang tinggi, pengurangan tenaga kerja, dan investasi internasional yang sedang berjalan.







