Perayaan Halloween yang berlangsung setiap tanggal 31 Oktober identik dengan kostum hantu, dekorasi labu berwajah seram, serta tradisi trick-or-treating. Di samping kostum, pembagian sajian manis seperti cokelat batangan, permen warna-warni, hingga candy corn menjadi agenda yang hampir tak pernah terlewatkan.
Meski sangat populer, tradisi menyajikan cokelat dan permen sebenarnya tidak berasal dari kebiasaan awal perayaan Halloween. Popularitas makanan manis ini baru meluas pada abad ke-20 seiring perkembangan industri makanan dan pergeseran kebiasaan masyarakat di Amerika Serikat. Sebelum permen mendominasi, masyarakat zaman dahulu memanfaatkan hasil panen, kue tradisional, serta buah-buahan.
Berawal dari Perayaan Kuno Samhain
Seperti dilaporkan CNN International, sejarah Halloween berakar dari Samhain, yakni perayaan kuno bangsa Celtic di Eropa yang telah ada jauh sebelum berkembangnya agama Kristen. Festival Samhain ini diadakan untuk menandai berakhirnya masa panen sekaligus menyambut datangnya musim dingin.
Masyarakat kala itu percaya bahwa batas antara alam manusia dan dunia roh menjadi sangat tipis pada malam perayaan tersebut, sehingga arwah orang yang meninggal dapat kembali ke bumi. Guna memperingatinya, warga menyalakan api unggun dan menggelar ritual, termasuk kebiasaan mumming di mana sekelompok orang berkostum mendatangi rumah-rumah untuk melakukan pertunjukan demi mendapatkan imbalan makanan dan minuman.
Tradisi Samhain kemudian berkaitan dengan hari raya Kristen All Saints’ Day atau All Hallows’ Day yang diperingati setiap 1 November. Malam sebelum peringatan tersebut dinamai All Hallows’ Eve yang kelak berkembang menjadi kata Halloween. Tradisi ini lalu dibawa ke Amerika Serikat oleh para imigran Irlandia pada pertengahan abad ke-19, terutama saat terjadi gelombang bencana kelaparan kentang.
Sajian Kue, Apel, dan Kacang sebelum Permen
Sebelum permen mendominasi perayaan, masyarakat memiliki hidangan khas bernama soul cakes, yaitu kue bulat kecil bertekstur mirip biskuit shortbread. Kue tersebut dibagikan dalam tradisi souling, di mana anak-anak dan warga kurang mampu mengunjungi rumah-rumah sambil bernyanyi dan memanjatkan doa bagi arwah kerabat pemilik rumah.
Selain kue, apel dan kacang-kacangan turut menjadi bagian penting dari tradisi Halloween. Pada abad ke-19, warga Amerika Serikat mempopulerkan permainan apple bobbing, yaitu usaha mengambil apel dari wadah berisi air hanya dengan menggunakan mulut. Permainan ini juga dipercaya dapat meramal jodoh, di mana peserta yang berhasil menggigit apel lebih dulu diyakini akan menjadi orang berikutnya yang menikah.
Sementara itu, jenis kacang seperti hazelnut dan chestnut disajikan dalam tradisi Nut Crack Night. Dalam perayaan tersebut, kacang dimanfaatkan sebagai media ramalan untuk memprediksi kelangsungan hubungan asmara dan sosok calon pasangan hidup.








