Daftar Isi
- Ketidakseimbangan Pasokan Kamar dan Permintaan Wisatawan
- Penurunan Okupansi dan Kesenjangan Proyeksi Kedatangan
- Hotel Mewah Menekan Pasar Hotel Skala Menengah
- Tekanan Keuangan dan Gelombang Penutupan Usaha Akomodasi
- Dinamika Pasar Wisatawan Asing dan Beban Biaya Perjalanan
- Aturan Masuk Baru dan Tantangan Daya Saing Regional
Industri perhotelan di Thailand menghadapi ujian berat sepanjang 2026 seiring melambatnya pertumbuhan wisatawan mancanegara, penurunan tingkat hunian kamar, serta persaingan bisnis yang semakin tajam. Berdasarkan laporan Travel And Tour World, Kasikorn Research Center memproyeksikan kedatangan turis asing ke negara tersebut berpotensi turun 4,9 persen menjadi 31,36 juta pengunjung pada tahun ini.
Proyeksi tersebut menciptakan celah perbedaan dengan target Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) yang menetapkan sasaran lebih optimistis sebanyak 33 juta wisatawan asing. Data terbaru dari Bank of Thailand dan lembaga riset sektor hospitalitas menunjukkan peningkatan tekanan terhadap pengelola akomodasi, terutama hotel-hotel berskala kecil, akibat tumbuhnya pasokan kamar dan perubahan pola perjalanan turis di kawasan Asia Tenggara.
Ketidakseimbangan Pasokan Kamar dan Permintaan Wisatawan
Pertumbuhan pembangunan hotel di Thailand, khususnya pada segmen premium di Bangkok, masih terus berlangsung meski pemulihan arus pariwisata internasional mengalami hambatan. Banyak investasi hotel besar dirancang pada masa awal pemulihan pascapandemi ketika para pengembang memperkirakan adanya lonjakan cepat permintaan akomodasi kelas atas.
Proyek pembangunan hotel memerlukan waktu beberapa tahun dari tahap investasi awal hingga resmi beroperasi. Kondisi tersebut menyebabkan properti yang dirancang saat pasar sangat optimistis baru dibuka ketika permintaan perjalanan justru melemah. Dampaknya, terjadi ketidakseimbangan antara ketersediaan kamar dan jumlah wisatawan yang datang, dengan skala dampak yang bervariasi bergantung pada lokasi dan segmen pasar masing-masing hotel.
Penurunan Okupansi dan Kesenjangan Proyeksi Kedatangan
Data TAT mencatat Thailand menerima sekitar 23,4 juta wisatawan internasional sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka akumulatif hingga pertengahan Oktober mencapai sekitar 24,4 juta kunjungan, atau mengalami penurunan sebesar 4,12 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pemerintah Thailand tetap berupaya mendorong tingkat kunjungan pada musim puncak di akhir tahun.
TAT mempertahankan target 33 juta kunjungan wisman melalui berbagai promosi pemasaran untuk menarik wisatawan berkualitas tinggi. Di sisi lain, Kasikorn Research Center menetapkan perkiraan yang lebih konservatif pada angka 31,36 juta kunjungan. Proyeksi pada Agustus tersebut sebenarnya telah dinaikkan dari perkiraan sebelumnya sebesar 30 juta, tetapi tetap mengindikasikan penurunan pasar pariwisata internasional secara tahunan.
Penurunan kinerja juga terlihat pada tingkat hunian (okupansi) hotel. Bank of Thailand melaporkan okupansi hotel di kawasan Thailand tengah, termasuk Bangkok, mengalami penurunan berturut-turut dari 72,40 persen pada Juli menjadi 70,77 persen pada Agustus, dan berlanjut turun ke 65,89 persen pada September 2026. Secara nasional, okupansi rata-rata juga merosot dari 70,05 persen pada Juli menjadi 65,05 persen pada September.
Hotel Mewah Menekan Pasar Hotel Skala Menengah
Ekspansi segmen akomodasi premium memicu persaingan ketat bagi hotel bintang tiga dan bintang empat yang telah berdiri lama. Ketika hotel mewah memberikan penawaran promosi tarif yang agresif, sebagian wisatawan memutuskan untuk berpindah ke fasilitas berkelas lebih tinggi karena selisih harga kamar yang semakin tipis.
Kondisi ini menyulitkan hotel independen skala menengah yang tidak memiliki dukungan anggaran pemasaran besar, jaringan distribusi luas, maupun program loyalitas seperti grup hotel internasional. Pengelola hotel kecil juga harus menanggung kenaikan biaya operasional, termasuk gaji karyawan, listrik, pemeliharaan, dan biaya pembiayaan. Pemberian diskon tarif kamar sering kali terpaksa dilakukan demi menjaga tingkat hunian, meskipun harus mengorbankan margin keuntungan bisnis.
Tekanan Keuangan dan Gelombang Penutupan Usaha Akomodasi
Laporan riset Kasikorn Research Center per 26 Oktober 2026 menunjukkan peningkatan tekanan finansial pada pelaku bisnis perhotelan. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tercatat hanya 779 usaha hotel dan akomodasi baru yang mendaftar, atau merosot 31,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sebaliknya, jumlah penutupan bisnis akomodasi melonjak hingga 42 persen menjadi 148 usaha.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa sekitar 51 persen pengelola hotel dan akomodasi mencatatkan kerugian pada 2025, dengan porsi mencapai 54 persen pada kelompok pengelola hotel kecil. Selain itu, lebih dari 38 persen bisnis akomodasi menderita kerugian akumulatif selama tiga tahun berturut-turut dari 2023 hingga 2025, yang memperlihatkan bahwa hambatan keuangan di sektor ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek.
Dinamika Pasar Wisatawan Asing dan Beban Biaya Perjalanan
Pasar Tiongkok tetap menjadi penyumbang terbesar wisatawan bagi Thailand dengan mencatatkan 1,49 juta kedatangan pada kuartal pertama 2026. Posisi berikutnya ditempati oleh Malaysia dengan sekitar 960.000 kunjungan, Rusia sebanyak 726.000, India sebesar 626.000, serta Korea Selatan sebanyak 412.000 kedatangan. Meski kedatangan turis Tiongkok diproyeksikan terus tumbuh, kecepatannya cenderung melambat.
Sementara itu, permintaan dari beberapa negara tetangga dan pasar jarak pendek seperti Korea Selatan, Malaysia, India, dan Indonesia masih tertekan oleh ketidakpastian ekonomi dan kenaikan biaya perjalanan. Bank of Thailand menyatakan pada 30 Oktober bahwa tingginya biaya transportasi udara turut membebani pemulihan pariwisata pada kuartal ketiga.
Di sisi lain, wisatawan dengan tingkat pengeluaran di atas rata-rata kini mencakup 53 persen dari total wisman, meningkat signifikan dibandingkan 30 persen pada masa pra-pandemi. Segmen ini didominasi turis dari Eropa, Amerika, Timur Tengah, Australia, Selandia Baru, dan Tiongkok. Kendati demikian, ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas perjalanan jarak jauh tersebut.
Aturan Masuk Baru dan Tantangan Daya Saing Regional
Pemerintah Thailand memberlakukan revisi aturan bebas visa dan Visa on Arrival (VoA) sejak 15 September 2026. Kebijakan ini menggantikan skema umum bebas visa 60 hari dengan aturan berbasis kewarganegaraan, di mana pemegang paspor tertentu seperti dari Inggris dan India diizinkan tinggal hingga 30 hari untuk tujuan wisata. Wisatawan asing juga diwajibkan mengisi Thailand Digital Arrival Card secara gratis maksimal tiga hari sebelum kedatangan.
Selain perubahan visa, wacana pengenaan biaya masuk bagi wisatawan asing berpotensi memengaruhi daya saing Thailand di kawasan Asia Tenggara. Thailand kini bersaing ketat dengan negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Indonesia yang menawarkan pilihan wisata pantai, budaya, serta akomodasi premium dengan harga bersaing.
Menghadapi persaingan tersebut, TAT terus mendorong strategi pariwisata berbasis nilai dengan menargetkan pendapatan total pariwisata domestik dan internasional sebesar 2,65 triliun baht pada 2026. Di akhir tahun, TAT meluncurkan promosi belanja ASEAN India+ yang membidik pendapatan sebesar 244 juta baht dari 30.000 wisatawan regional. Kemampuan industri dalam menyesuaikan pasokan kamar dengan tingkat permintaan nyata akan menjadi faktor penentu arah pasar perhotelan Thailand menuju 2027.







