Viral Dokter Pukul Pramugara, Keluarga Ungkap Kronologi Lain
Media sosial dihebohkan oleh insiden dugaan pemukulan terhadap seorang pramugara dalam penerbangan rute Lombok-Jakarta. Pramugara yang bertugas menyebut pelaku merupakan seorang dokter spesialis penyakit dalam.
Kronologi Versi Pramugara
Pramugara yang menggunakan akun Threads @exmanef membeberkan identitas serta profesi penumpang tersebut usai peristiwa yang berlangsung pada Rabu (28/10/2026), setelah detikTravel mendapat izin untuk mengutip unggahan tersebut. Dalam tulisannya, pramugara tersebut menyayangkan tindakan penumpang yang seharusnya paham mengenai etika publik.
Sebuah video yang beredar memperlihatkan penumpang itu menyampaikan permohonan maaf setelah sempat dimintai keterangan. Penumpang tersebut dikabarkan mengakui perbuatannya dan diturunkan dari pesawat sehingga gagal melanjutkan penerbangan ke Jakarta. Pramugara yang mengaku sebagai korban menyatakan tidak berencana membawa kasus ini ke jalur hukum karena hanya akan menyita waktu kerja, dan memilih menyerahkan penilaian kepada warganet.
Kendati demikian, pramugara tersebut menyampaikan bahwa dirinya masih menderita dampak fisik maupun mental akibat insiden itu. Akibat kejadian tersebut, korban merasakan sakit nyeri area perut dan mengalami trauma.
Klarifikasi Pihak Keluarga
Di sisi lain, pihak keluarga dokter dengan tegas menolak tuduhan pemukulan tersebut dan memaparkan sudut pandang berbeda. Keluarga menjelaskan bahwa jadwal penerbangan kala itu menghadapi penundaan hampir tiga jam, sebelum akhirnya para penumpang diizinkan masuk ke kabin.
Baca Artikel Lainnya
- Krisis Pariwisata Kuba: Hotel Raksasa Keluar dan Penerbangan Turun ›
- Jelajahi Pesona Vietnam dengan Pilihan Tur Mister Aladin ›
- Turki Majukan Proyek Modernisasi Jalur Kereta Koridor Tengah ›
- Duka Selimuti Bromo Usai Enam Petugas Gugur Padamkan Karhutla ›
- Jejak Rel Kereta Kolonial di Balik Wajah Kota Indonesia ›
- Thailand Gencar Tambah Hotel dan Penerbangan Meski Wisatawan Turun ›
Dokter tersebut masuk melalui pintu belakang pesawat dan bertanya mengenai letak kursi 22C kepada seorang pramugara sambil membawa tiga tas kabin serta satu tas ransel. Penumpang itu pun sempat melontarkan pertanyaan ihwal keterlambatan jadwal terbang.
Ketika berjalan di lorong kabin yang sempit, tangan dokter tersebut tidak sengaja mengenai bagian perut pramugara. Menurut keterangan anak dokter, ayahnya langsung terkejut dan menyampaikan permohonan maaf berulang kali.
Sesampainya di kursi, dokter menganggap permasalahan telah rampung, namun beberapa menit kemudian ia dipanggil menuju bagian depan pesawat. Kepada dokter, pihak kru menyampaikan tuduhan pemukulan lantaran pramugara mengeluhkan sakit pada bagian perutnya, yang langsung ditanggapi dokter dengan kembali meminta maaf berkali-kali.
Keluarga juga mengungkapkan kondisi kesehatan dokter saat peristiwa itu terjadi akibat penundaan penerbangan. Penumpang tersebut mengalami hipoglikemia karena baru saja menyuntik insulin dan hanya mengonsumsi sepotong roti.
Lebih lanjut, keluarga membantah anggapan bahwa permohonan maaf yang disampaikan merupakan pengakuan bersalah atas tindakan pemukulan. Pada akhir pernyataan, pihak keluarga meminta agar permasalahan ini dituntaskan secara objektif mengacu pada prosedur serta bukti yang ada, alih-alih berpedoman pada opini di media sosial.
Keluarga turut mempertanyakan tindakan penyebaran video pernyataan serta data pribadi dokter tersebut, serta menyatakan kesiapan menempuh jalur hukum apabila narasi pengakuan pemukulan terus diviralkan.


