Pertolongan Pertama Heatstroke pada Pelari

Sengatan panas atau heatstroke menjadi ancaman serius bagi para pegiat lari, terutama saat berpartisipasi dalam perlombaan jarak jauh. Gangguan ini terjadi saat mekanisme alami tubuh gagal mengendalikan temperatur internal akibat pelepasan panas berlebih yang tidak sebanding dengan proses pendinginan.

Prinsip Pendinginan Cepat Sebelum Evakuasi

Jika pelari dicurigai mengalami heatstroke, penanganan darurat perlu dijalankan dengan menerapkan prinsip cooling first, transport later. Pendekatan ini memprioritaskan pendinginan suhu tubuh secepat mungkin sembari segera memanggil bantuan medis untuk evakuasi rujukan.

Dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif, dr. Muhammad Habibi Nst Sp.An-TI, menjelaskan bahwa intervensi harus disesuaikan dengan kondisi fisik pasien dan ketersediaan peralatan di lokasi. Dalam program Morning Zone yang disiarkan di YouTube Okezone, ia menyebutkan bahwa cara paling optimal untuk membuang panas tubuh adalah melalui teknik perendaman air dingin di bawah pantauan tenaga ahli.

Penyelenggara ajang lari biasanya menyediakan tenda medis dengan terpal atau bak khusus yang dipenuhi air dan es. Pengawasan ketat patut diarahkan kepada peserta yang menunjukkan gelagat tidak wajar, misalnya kehilangan keseimbangan, berjalan terhuyung-huyung, maupun mengalami kemerosotan stamina secara mendadak.

“Prinsip utamanya adalah melakukan pendinginan tubuh secepat mungkin ketika seseorang dicurigai mengalami heatstroke,” kata dr. Habibi.

Pemeriksaan suhu tubuh dapat melengkapi evaluasi klinis, namun tindakan penurunan suhu tidak boleh diulur-ulur apabila tanda bahaya telah tampak jelas.

Langkah Darurat Ketika Berlari Sendiri

Bahaya akan meningkat berlipat ganda jika gejala muncul saat seseorang berolahraga sendirian atau posisinya terisolasi dari pos kesehatan. Dalam kondisi darurat seperti ini, warga sekitar perlu bergerak cepat memindahkan korban menuju area yang teduh, menanggalkan pakaian luar yang tebal, dan menyiram sekujur badannya dengan air dingin.

Penempatan kompres dingin menggunakan kain basah di titik-titik lipatan seperti leher, ketiak, serta selangkangan bisa menjadi pertolongan tambahan. Meski demikian, dr. Habibi mengingatkan bahwa langkah kompres tersebut bukan pengganti utama perendaman seluruh badan yang efektif meredakan heatstroke.

Masyarakat juga diimbau tidak memberikan asupan cairan kepada korban yang mengalami penurunan kesadaran guna menghindari bahaya tersedak. Apabila pelari menunjukkan gejala kebingungan parah, kejang, atau pingsan, layanan ambulans darurat harus dihubungi segera tanpa menunda waktu hanya demi menurunkan suhu tubuh seorang diri.