Daftar Isi
Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) mengumumkan penyelidikan terhadap dugaan praktik “harga personalisasi” yang melibatkan sembilan perusahaan besar, termasuk tiga maskapai penerbangan terkemuka. Praktik tersebut merujuk pada taktik perusahaan menetapkan harga yang berbeda bagi tiap individu berdasarkan informasi yang dikumpulkan mengenai konsumen tersebut.
Penyelidikan FTC dan Sanggahan Maskapai
Penyelidikan yang diumumkan pada Rabu tersebut berfokus pada tiga maskapai penerbangan terbesar di AS yaitu Delta Air Lines, United Airlines, dan JetBlue, serta sejumlah perusahaan dari berbagai industri lain seperti dilaporkan The Points Guy Articles. Sebagai ilustrasi, seseorang mungkin melihat tarif penerbangan rute Chicago ke Miami seharga USD 300, sementara rekan mereka mendapatkan penawaran USD 220 untuk penerbangan yang sama.
Menanggapi hal tersebut, maskapai penerbangan secara tegas membantah penggunaan taktik pengawasan untuk menentukan tarif tiket. Asosiasi maskapai terbesar di AS, Airlines for America, menyatakan pada Jumat bahwa mereka sama sekali tidak menerapkan harga personalisasi. Menurut perwakilan asosiasi tersebut, maskapai selalu mengandalkan kondisi pasar dan permintaan konsumen seperti biasa dalam menentukan tarif.
Kekonsistenan Aturan dan Sorotan Publik
Kekhawatiran publik terhadap strategi penetapan harga tiket maskapai meningkat sepanjang tahun lalu, dipicu oleh berbagai peristiwa termasuk ketika eksekutif Delta mengungkapkan penggunaan perangkat kecerdasan buatan pihak ketiga untuk membantu menentukan harga penerbangan. Pengungkapan itu memicu kritik dari Capitol Hill, meskipun pihak Delta menegaskan bahwa mereka tidak pernah menggunakan informasi pribadi pelanggan untuk mempengaruhi tarif penerbangan.
Selain itu, investigasi terbaru dari Thrifty Traveler menunjukkan bahwa sejumlah maskapai AS membebankan harga lebih tinggi kepada pelancong solo dibandingkan penumpang yang memesan tiket bersama satu pendamping atau lebih. Pada musim semi lalu, sebuah gugatan hukum juga menuduh JetBlue memanfaatkan data pribadi untuk menetapkan tarif setelah muncul komentar di media sosial yang menyarankan pelanggan untuk menghapus kuki atau menggunakan mode penyamaran agar mendapat harga lebih murah. JetBlue kemudian menghapus unggahan tersebut dan menyatakan bahwa agen layanan pelanggan yang menulis komentar itu melakukan kesalahan.
Pandangan Pakar Ekonomi
Di sisi lain, Garrett Scott selaku ekonom dari Universitas Mississippi yang meneliti harga maskapai penerbangan menyatakan bahwa sistem penetapan harga dinamis sering kali membingungkan konsumen karena tarif dapat berubah dari waktu ke waktu seiring peningkatan kursi dan pergeseran permintaan. Scott berpendapat bahwa masyarakat kerap merasa khawatir perubahan harga tersebut disebabkan oleh perilaku pencarian mereka sendiri, meskipun ia mengaku belum sepenuhnya yakin bahwa itulah yang sebenarnya terjadi.
Maskapai penerbangan sendiri terbuka mengenai strategi tertentu yang mereka gunakan untuk menampilkan harga berbeda kepada pelanggan, seperti tarif penghargaan khusus bagi pemegang kartu kredit tertentu atau penawaran peningkatan kelas penerbangan yang ditargetkan. Berdasarkan keterangan resmi dari seorang pejabat FTC kepada The Points Guy Articles pada Jumat, lembaga tersebut tidak terlalu mempermasalahkan penggunaan harga personalisasi, melainkan fokus pada tindakan perusahaan yang menerapkannya tanpa memberikan pengungkapan kepada konsumen.
Perluasan Investigasi ke Berbagai Industri
Sementara itu, pakar strategi penetapan harga dari Universitas Nevada, Las Vegas, Mark Tremblay berpendapat bahwa batasan antara taktik harga maskapai biasa dan penetapan harga berbasis pengawasan mulai kabur. Tremblay menyebutkan bahwa sebuah maskapai dapat saja menaikkan tarif liburan pada pekan ketika data menunjukkan pelancong kaya cenderung memesan perjalanan akhir tahun, yang pada dasarnya merupakan harga personalisasi dalam balutan harga dinamis.
Pemeriksaan oleh FTC tidak hanya menyasar sektor penerbangan, melainkan juga meluas ke perusahaan ride-hailing seperti Uber dan Lyft, peritel besar Walmart dan Target, serta raksasa layanan pengiriman DoorDash dan Instacart. Melalui penyelidikan ini, lembaga tersebut mewajibkan perusahaan-perusahaan tersebut menyerahkan informasi terkait taktik penetapan harga mereka, termasuk potensi fluktuasi tarif berdasarkan faktor personal seperti keikutsertaan dalam program loyalitas.








