Maskapai penerbangan nasional South African Airways (SAA) kembali menghadapi masalah keuangan serius setelah menunda pembayaran gaji untuk 30 hingga 40 persen stafnya. Perusahaan mengaitkan situasi ini dengan lonjakan harga bahan bakar, meskipun para eksekutif mengeklaim kondisi keuangan maskapai baik-baik saja.
Krisis Likuiditas dan Penundaan Gaji
Seperti dilaporkan One Mile at a Time, SAA saat ini terpaksa menunda gaji para manajemen, pilot, eksekutif, dan anggota dewan komisaris demi memprioritaskan biaya operasional yang krusial. Kepala Hubungan Korporat SAA, Mpilo Dlamini, menjelaskan bahwa maskapai kekurangan suntikan modal sejak keluar dari proses penyelamatan usaha atau business rescue pada tahun 2021.
Menurut Dlamini, kurangnya suntikan modal membuat maskapai kesulitan menjaga kelangsungan operasional serta menutupi biaya yang ada. Kendati demikian, pihak manajemen dan dewan direksi sedang berdiskusi dengan sejumlah lembaga keuangan yang disebut berminat memberikan dukungan karena strategi bisnis maskapai dinilai layak. Dlamini menegaskan bahwa perusahaan tidak akan meminta dana talangan tambahan kepada pemerintah.
Kondisi Keuangan yang Dipertanyakan
Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang berakhir pada 31 Maret 2025, kelompok usaha SAA mencatatkan laba bersih sebesar 155 juta rand atau setara dengan 9,3 juta dolar Amerika Serikat, sementara maskapai secara mandiri membukukan laba bersih 30 juta rand atau 1,8 juta dolar Amerika Serikat. Namun, sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi, kelompok usaha tersebut sebenarnya mengalami kerugian sebesar 317 juta rand atau 19 juta dolar Amerika Serikat.
Selain itu, terdapat pemasukan sebesar 1,169 miliar rand atau 70,1 juta dolar Amerika Serikat yang berasal dari pos pelepasan aset, yang sebagian besar disumbangkan oleh penjualan slot penerbangan di Bandara Heathrow serta keuntungan modifikasi sewa. Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi keuangan SAA sebenarnya sudah rapuh sebelum krisis pembayaran gaji ini terjadi, mengingat laba tahunan mereka ditopang oleh penjualan aset alih-alih keuntungan operasional murni.
Penundaan gaji staf, khususnya para pilot, mengindikasikan bahwa kondisi maskapai berada dalam situasi yang jauh dari kata aman. SAA harus segera menemukan solusi jangka panjang karena penundaan pembayaran upah karyawan tidak mungkin dilakukan secara terus-menerus tanpa memicu masalah yang lebih besar.







