Persaingan distribusi dalam industri perhotelan selama ini sering kali dilihat dari sudut pandang yang kurang tepat. Kehadiran pihak ketiga yang krusial, yaitu pemilik hotel, kerap diabaikan dalam konflik berkepanjangan antara merek hotel dan agen perjalanan daring (OTA).
Pertarungan antara Merek Hotel dan OTA
Selama bertahun-tahun, persaingan sengit terjadi antara jaringan hotel besar seperti Hilton dan Marriott dengan platform pemesanan seperti Booking.com serta Expedia. Pihak merek hotel berupaya keras agar para tamu melakukan pemesanan secara langsung melalui sistem mereka. Sebaliknya, pihak OTA menginginkan setiap reservasi masuk melalui platform digital mereka.
Setiap kemunculan teknologi baru, termasuk agen kecerdasan buatan atau AI, selalu dinilai berdasarkan dampaknya terhadap kedua belah pihak yang berseteru tersebut. Namun, kerangka berpikir yang umum digunakan ini melupakan pihak lain yang menanggung beban neraca keuangan yang jauh berbeda, yakni pemilik hotel itu sendiri.
Beban Finansial Pemilik Hotel
Pemilik properti harus membayar biaya kepada merek hotel agar mendapatkan akses ke sistem komersial mereka. Selain itu, pemilik hotel juga masih harus membayar OTA apabila platform tersebut berhasil mendatangkan tamu ke properti mereka.
Meskipun merek hotel dan OTA terus berunding demi memperebutkan pelanggan, kenyataannya properti hotel di lapangan lah yang harus menanggung biaya dari kedua relasi bisnis tersebut agar tetap bisa memperoleh keuntungan.
Laporan keuangan Hilton pada tanggal 27 Oktober memperjelas perbedaan posisi tersebut. Perusahaan mencatatkan pendapatan waralaba dan perizinan sebesar USD815 juta pada kuartal ketiga.








