Travel News

Cara Baru Buang Sampah di Myeong-dong Seoul

Cara Baru Buang Sampah di Myeong-dong Seoul
Daftar Isi
  1. Ratusan Pedagang Bergabung dalam Kampanye Clean Myeong-dong
  2. Bermula dari Keluhan Wisatawan
  3. Tantangan Kelangkaan Tempat Sampah Publik
  4. Mendukung Target Pariwisata Kota

Para pelancong yang berkunjung ke kawasan Myeong-dong di Seoul, Korea Selatan, tidak perlu lagi kebingungan mencari tempat pembuangan sampah. Melalui program kebersihan lingkungan terbaru, para pengunjung kini dapat mengoperkan kemasan makanan maupun cangkir bekas ke pedagang kaki lima setempat.

Fasilitas ini dapat dinikmati secara cuma-cuma oleh setiap wisatawan. Pemilik lapak tetap menerima sampah dari pejalan kaki meskipun mereka tidak berbelanja produk di tempat tersebut.

Ratusan Pedagang Bergabung dalam Kampanye Clean Myeong-dong

Seperti dilaporkan Liputan6.com, sebanyak 364 pedagang kawasan Myeong-dong telah bergabung dalam gerakan bertajuk “Clean Myeong-dong”. Inisiatif ini dirancang guna menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menunjang kenyamanan para pengunjung saat menjelajahi pusat wisata dan kuliner terkemuka di Seoul tersebut.

Pemerintah Metropolitan Seoul bersama Organisasi Pariwisata Seoul turut melengkapi lapak peserta dengan penanda khusus dalam bahasa Inggris, Jepang, dan Mandarin. Gerakan ini dijalankan secara sukarela oleh para pedagang, yang bersedia mendanai sendiri kebutuhan plastik sampah serta biaya operasional terkait. Walaupun sudah bergulir sejak Maret, promosi yang diperketat sejak bulan lalu membuat gerakan ini semakin dikenal luas.

Seorang pejabat Organisasi Pariwisata Seoul menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari sinergi antara para pelaku usaha lokal dan Kantor Polisi Namdaemun untuk mengurai permasalahan sampah kawasan.

Bermula dari Keluhan Wisatawan

Gerakan “Clean Myeong-dong” dipicu oleh maraknya keluhan wisatawan asing yang kesulitan menemukan fasilitas pembuangan sampah usai menyantap jajanan jalanan. Kantor Polisi Namdaemun Seoul kemudian mencetuskan aksi kebersihan yang langsung disambut hangat oleh komunitas pedagang.

Akses informasi mengenai lokasi lapak peserta disebarkan melalui 6 pusat pelayanan wisata serta 15 gerai informasi resmi milik Organisasi Pariwisata Seoul. Di samping itu, kampanye media sosial disemarakkan lewat kerja sama dengan kreator konten HelpYun serta penayangan video promosi di saluran resmi Visit Seoul.

Video instruksional tersebut memperlihatkan betapa mudahnya membuang tempat minuman bekas ke kios yang berpartisipasi tanpa keharusan membeli produk. Tayangan tersebut mendapat sambutan hangat hingga ditonton lebih dari 2,85 juta kali dalam kurun 24 jam setelah diunggah pada awal November.

Tantangan Kelangkaan Tempat Sampah Publik

Kehadiran inisiatif ini memperlihatkan persoalan lama Seoul terkait keterbatasan fasilitas sampah umum. Upaya penambahan wadah penampungan sampah di ruang publik sejak 2023 kerap mendapat penolakan dari warga maupun pemilik pertokoan setempat karena mengkhawatirkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

Masalah ini berakar pada kebijakan pengelolaan limbah tahun 1995 saat Korea Selatan memberlakukan penarikan tarif sampah berbasis volume. Kala itu, terdapat 7.607 tempat sampah publik di seluruh Seoul, sebelum akhirnya dipangkas lebih dari separuhnya guna mencegah warga membuang limbah rumah tangga di tempat umum demi menghemat biaya.

Mendukung Target Pariwisata Kota

Inisiatif pembersihan lingkungan ini diharapkan dapat menyokong target Seoul dalam menarik hingga 30 juta pelancong mancanegara per tahun pada 2030. Pada periode Januari hingga September saja, wilayah ibu kota tersebut telah kedatangan lebih dari 13 juta turis asing.

Guru Besar Pariwisata Universitas Hanyang, Jeong Chul, menilai penyediaan sarana penunjang bagi turis mesti sejalan dengan lonjakan jumlah kedatangan. Pemerintah Seoul pun berencana meluaskan model penanganan sampah ini ke lokasi wisata dan pasar tradisional lainnya.

Fenomena minimnya fasilitas sampah di ruang publik juga mencuri perhatian para wisatawan. Di Alun-alun Gwanghwamun yang membentang seluas 40.300 meter persegi, wadah penampungan sampah terbilang sangat langka.

“Menurut saya, sungguh mengesankan bahwa tidak ada tempat untuk membuang sampah di area seluas ini, tetapi jalanannya tetap bersih,” ujar Letitia, wisatawan asal Spanyol.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *