Sebanyak 14 remaja nekat mendaki Gunung Merapi melalui jalur Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, meskipun jalur pendakian resmi ditutup. Sebanyak 11 orang di antaranya berhasil diamankan oleh petugas saat melakukan patroli pada Sabtu (31/10) sore.
Diamankan ke Posko dan Sanksi Sosial
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Tutut Heri Wibowo, menyatakan bahwa belasan remaja tersebut kemudian dibawa menuju posko untuk diamankan. Namun, tiga orang lainnya tidak turut dibawa karena kondisi fisik mereka kurang sehat.
Menurut Heri, ketiga remaja yang sakit tersebut langsung diantar pulang ke rumah masing-masing oleh warga setempat. Kendati demikian, pihak petugas telah mencatat identitas mereka guna melakukan tindak lanjut ke alamat masing-masing.
Berdasarkan dokumentasi foto yang diterima petugas, rombongan remaja tersebut diperkirakan masih berusia sekolah tingkat SMA hingga mahasiswa. Mereka diketahui berasal dari berbagai daerah di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Sebagai langkah awal penanganan, pihak TNGM menerapkan pendekatan persuasif mengingat para pelanggar masih tergolong usia muda dan baru pertama kali melakukan pelanggaran. Petugas menyita telepon seluler serta kartu identitas para remaja tersebut untuk diproses lebih lanjut.
Heri menjelaskan bahwa para pelanggar akan dipanggil kembali ke Balai TNGM guna menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menggali informasi terkait cara mereka bisa menerobos kawasan tertutup serta menyelidiki kemungkinan adanya pihak atau agen perjalanan yang mengantar mereka.
Selain itu, para remaja itu juga dijatuhi sanksi sosial berupa kewajiban membersihkan kawasan wisata TNGM secara berkala. Hukuman tersebut berjalan selama tiga bulan dengan jadwal kedatangan berkisar antara 12 hingga 16 kali, di mana mereka harus datang tiga kali dalam sepekan.
Status Gunung Merapi Masih Siaga
Heri menyampaikan rasa prihatinnya karena aktivitas pendakian ilegal di Gunung Merapi masih terus berulang. Kawasan pendakian tersebut telah ditutup sejak tahun 2018 mengingat status gunung berapi aktif itu masih berada pada Level III atau Siaga.
Tercatat sudah ada sekitar 100 pendaki ilegal yang kedapatan nekat naik selama kurun waktu tertentu. Pihaknya mengaku tidak pernah berhenti memberikan imbauan kepada publik bahwa kawasan tersebut sangat berbahaya untuk dikunjungi.
Pihak TNGM kembali menyerukan kepada masyarakat agar menahan diri dan tidak memaksakan diri melakukan pendakian sampai situasi dinyatakan benar-benar aman. Keselamatan jiwa tetap diposisikan sebagai prioritas utama bagi seluruh pihak meskipun penutupan jalur telah berlangsung selama delapan tahun sejak 2018.







