Alaska Airlines melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 200 karyawannya di tengah beban biaya bahan bakar yang tinggi. Maskapai penerbangan tersebut juga memproyeksikan kerugian setelah mencatatkan angka kerugian sebesar 416 juta dolar AS selama sembilan bulan pertama tahun berjalan.
Fokus Pengurangan Karyawan Administratif
Menurut keterangan juru bicara maskapai kepada Skift, pemangkasan tenaga kerja ini hanya berdampak pada posisi di bagian belakang kantor atau administratif. Dengan demikian, posisi operasional seperti pilot, awak kabin, petugas darat, dan teknisi pemeliharaan dipastikan aman dari kebijakan tersebut.
Berdasarkan sebaran wilayah, pemangkasan tersebut akan berdampak pada 148 karyawan yang berada di negara bagian Washington. Sementara itu, sebanyak 48 karyawan lainnya terdampak di wilayah Hawaii.
Langkah efisiensi ini diambil oleh manajemen guna mengendalikan pengeluaran perusahaan di tengah situasi operasional yang menantang akibat tingginya harga bahan bakar yang telah menggerus keuntungan maskapai.








