Travel News

Pengaruh AI di Pariwisata ASEAN, Sentuhan Manusia Terganti?

Pengaruh AI di Pariwisata ASEAN, Sentuhan Manusia Terganti?
Daftar Isi
  1. Daya Saing Pekerja dan Literasi Teknologi
  2. Kurikulum Pendidikan dan Persepsi Industri
  3. Pelatihan Berkelanjutan dan Pengembangan Karier

Kecerdasan buatan atau AI kini mulai merambah berbagai lini industri pariwisata untuk mengolah informasi, memahami kebutuhan wisatawan, serta mempercepat pekerjaan operasional. Perubahan teknologi ini turut menuntut penyesuaian keterampilan bagi tenaga kerja di sektor perhotelan dan perjalanan.

Daya Saing Pekerja dan Literasi Teknologi

Menurut Candace Lim, Deputy Director of Hospitality and Tourism Talent Singapore Tourism Board, kemampuan menguasai AI akan memengaruhi daya saing pekerja pariwisata. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tidak akan serta-merta melenyapkan kebutuhan terhadap tenaga manusia.

AI tidak akan menggantikan pekerja pariwisata, tetapi pekerja pariwisata yang bisa menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak bisa, kata Candace dalam panel diskusi forum ASEAN-Korea Roundtable on Tourism di kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat, 6 November 2026, seperti dilaporkan Liputan6.com Travel.

Singapura sendiri menerapkan literasi AI sebagai bagian dari kompetensi dasar untuk berbagai posisi pekerjaan di bidang perhotelan dan pariwisata. Candace memberikan contoh bagaimana teknologi dimanfaatkan guna mempercepat proses pengambilan keputusan, sementara keputusan akhirnya tetap di tangan manusia.

Pendekatan tersebut membebaskan waktu pekerja untuk menangani tugas-tugas yang memerlukan pertimbangan lebih mendalam. Program pelatihan yang disiapkan mencakup layanan berbantuan AI, pemasaran digital, pemesanan daring, keamanan siber, hingga etika pengelolaan data untuk berbagai jenjang pekerjaan.

Kurikulum Pendidikan dan Persepsi Industri

Candace juga mengingatkan agar penggunaan teknologi tidak menghilangkan nilai kemanusiaan dalam industri pelayanan. Teknologi seharusnya membuat orang-orang kita menjadi lebih manusiawi, bukan sebaliknya, ujarnya.

Perkembangan teknologi ini menuntut institusi pendidikan untuk menyesuaikan materi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan industri. Dr. Dea Prasetyawati dari BINUS University menyatakan perlunya kolaborasi antara pendidikan, industri, pemerintah, dan teknologi agar proses belajar mengajar tidak tertinggal.

Sementara itu, Nigel Wong Chun Teim, President Malaysian Association of Tour and Travel Agents (MATTA), melihat tantangan lain berupa pandangan sebagian masyarakat yang masih menganggap pekerjaan pariwisata sebagai pilihan sementara atau keterampilan rendah. Padahal, ekosistem perjalanan menuntut pemahaman yang semakin kompleks dari para pekerjanya.

Nigel turut mendorong kerja sama ASEAN dan Korea dalam pengembangan pendidikan pariwisata dengan memanfaatkan platform rintisan Korea. Jika platform dan perangkat lunak tersebut digabungkan dengan kerangka pendidikan yang kita miliki, ada peluang bagi kita untuk melompat lebih jauh dibandingkan metode pendidikan konvensional, kata Nigel.

Pelatihan Berkelanjutan dan Pengembangan Karier

Candace menjelaskan bahwa para pekerja yang telah mengantongi ijazah tetap memerlukan keterampilan tambahan guna menghadapi karakter wisatawan yang terus berubah. Oleh karena itu, penyelenggara pelatihan didorong untuk menyediakan kursus singkat seperti program setengah atau satu hari agar karyawan bisa belajar tanpa harus meninggalkan tugas terlalu lama.

Than Htut, Secretary General Myanmar Tourism Federation, sepakat mengenai pentingnya hubungan erat antara lembaga pendidikan dan industri dalam menyusun program pembelajaran berbasis kebutuhan kerja. Ia mendorong penyediaan kesempatan berkembang melalui pelatihan di tempat kerja, pendampingan, pendidikan profesional berkelanjutan, magang, serta pertukaran tenaga profesional antara ASEAN dan Korea.

Dari Thailand, Patthanasiri Salyasiri Ewtoksan dari Department of Tourism menyoroti perlunya kepastian finansial serta jalur karier yang jelas demi mempertahankan pekerja di sektor pariwisata seiring peningkatan kompetensi mereka. Pandangan serupa disampaikan Macario Floarian Sanches dari Heritage Tourism Association Timor-Leste, yang menilai aspek pengetahuan, keterampilan, sistem, proses, serta sikap dan perilaku harus berjalan beriringan dalam menghadapi perubahan kebutuhan wisatawan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *