Daftar Isi
Pegunungan Cardamom yang terletak di wilayah Koh Kong, Kamboja, menyimpan pesona alam sekaligus kearifan lokal yang kental. Kawasan yang berjarak sekitar enam jam perjalanan bus ke arah barat dari ibu kota Phnom Penh ini tidak hanya menjadi rumah bagi beragam spesies fauna langka, tetapi juga dikenal sebagai kawasan suci yang dipenuhi kepercayaan animisme masyarakat setempat.
Harmoni Kepercayaan Lokal dan Perlindungan Alam
Perjalanan menyusuri Sungai Preak Piphot menuju Pegunungan Cardamom menyuguhkan pemandangan hutan hujan tropis yang lebat dan ekosistem mangrove. Bagi masyarakat Khmer, spiritualitas terintegrasi erat dengan kehidupan sehari-hari. Seperti dilaporkan The Guardian, masyarakat meyakini keberadaan neak ta, yaitu roh pelindung yang menjaga kekayaan alam Kamboja dari ancaman kerusakan ekologis.
Di sepanjang jalur sungai, berdiri tempat pemujaan kecil bernama Lok Ta Esey Tmar Andet di atas batu yang diyakini menjaga keselamatan sungai. Warga lokal memercayai lokasi suci tersebut sebagai tempat bersemayamnya sosok mitis Buaya Putih. Selain kepercayaan animisme yang menjadikan kawasan hutan tetap sakral dan tidak boleh dirusak, pemerintah Kamboja juga menempatkan polisi hutan bersenjata untuk menegakkan hukum taman nasional.
Transformasi Komunitas Chi Phat melalui Ekowisata
Kawasan Pegunungan Cardamom memiliki sejarah panjang, mulai dari situs pemakaman kuno hingga lokasi benteng terakhir gerilyawan Khmer Merah pimpinan Pol Pot pada akhir 1980-an. Saat ini, ancaman ekonomi dan lingkungan mendorong masyarakat pedesaan seperti Chi Phat untuk mengubah cara pandang mereka terhadap alam.
Komunitas ekowisata Chi Phat didirikan oleh organisasi Wildlife Alliance pada 2007. Program ini melibatkan warga lokal yang sebelumnya bekerja sebagai penebang pohon dan pemburu liar, kini beralih menjadi pemandu wisata dan pelindung hutan. Salah satu sosok tersebut adalah Mr Crab, seorang pria berusia 60 tahun yang dahulu merupakan sopir truk pengangkut kayu tebangan, tetapi kini bertugas sebagai juru masak hutan. Selain itu, ada pula pemandu muda bernama Daro yang meninggalkan pekerjaannya sebagai desainer grafis di perkotaan untuk hidup menyatu dengan alam.
Pengalaman Perjalanan dan Etika Menyusuri Hutan
Ekspedisi penjelajahan hutan sepanjang 15 kilometer ini mencakup perjalanan mengarungi sungai dengan perahu dayung tanpa mesin untuk menjaga ketenangan ekosistem. Kawasan hutan ini menjadi habitat bagi berbagai satwa liar, seperti gajah hutan, anjing liar (dhole), burung raja-udang, kupu-kupu Indo-Chinese chocolate albatross, hingga laba-laba raksasa penenun emas (giant golden orb weaver).
Selama melakukan perjalanan, para pengunjung diwajibkan mematuhi tata krama setempat. Pemandu dari dinas pariwisata Kamboja, Chea Singhtararith, mengingatkan agar tidak mengucapkan hal-hal buruk, tidak mengambil apa pun dari hutan, serta meminta izin kepada roh penyokong sebelum buang air kecil. Pengunjung juga diimbau untuk berhati-hati terhadap kelembapan udara yang tinggi serta risiko jamur atau tumbuhan liar di sepanjang jalur trek.
Perjalanan ekowisata yang difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata Kamboja dan Komunitas Chi Phat ini menawarkan paket lima hari dengan biaya sekitar 350 dolar AS (sekitar Rp5,5 juta) per orang, mencakup fasilitas penjelajahan, pemandu, makanan, dan akomodasi.








