Destinasi Wisata

Wisata Rumah Batu Kulla: Menjelajah Sisi Lain Albania

Wisata Rumah Batu Kulla: Menjelajah Sisi Lain Albania
Daftar Isi
  1. Mengenal Jalur ‘The Tower Trail’ dan Arsitektur Kulla
  2. Menghidupkan Kembali Keramahan Lokal
  3. Konsep Wisata Berkelanjutan dan Skala Kecil

Proyek pemugaran rumah menara batu tradisional yang dikenal sebagai kulla di wilayah utara Albania kini memberikan kesempatan bagi para wisatawan untuk merasakan kehangatan tradisi keramahan kuno. Melalui jalur lintas alam baru bernama The Tower Trail, wisatawan diajak menjelajahi kawasan pedesaan yang belum terjamah oleh arus utama pariwisata.

Mengenal Jalur ‘The Tower Trail’ dan Arsitektur Kulla

Jalur ini digagas oleh Asosiasi Agrowisata Albania (Albanian Agritourism Association) dengan dukungan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Rute sepanjang lebih dari 160 kilometer ini melintasi kawasan pedesaan di wilayah Mirdita, Mat, Bulqiza, dan Dibra di timur laut Albania. Perjalanan sembilan hari yang dirancang bersama pemandu ini melewati desa-desa tradisional, dataran tinggi, hutan, hingga lembah sungai, serta menyediakan opsi penginapan berupa rumah singgah, peternakan, dan kulla.

Kulla merupakan bangunan menara batu khas yang banyak ditemukan di Albania utara, Montenegro, dan Makedonia Utara. Bangunan bertingkat yang terbuat dari batu kapur dan kayu pegunungan ini awalnya didirikan sebagai benteng pertahanan keluarga dari konflik antarsuku maupun invasi Kekaisaran Utsmaniyah pada abad ke-15. Pada masa rezim komunis periode 1944 hingga 1991, banyak kulla disita pemerintah dan terbengkalai. Fenomena migrasi warga desa ke kota pada dekade 1990-an dan 2000-an semakin membuat rumah-rumah bersejarah tersebut terlantar.

Menghidupkan Kembali Keramahan Lokal

Direktur museum Infokulla di kota Rubik, Nik Nikolli, menjelaskan kepada The Guardian bahwa banyak desa di sepanjang jalur tersebut kini hanya dihuni oleh satu atau dua keluarga. Pengenalan konsep pariwisata berjalan lambat karena menerima uang dari tamu bertentangan dengan tradisi keramahan lokal yang sangat mengakar. Namun, ia berharap rute ini dapat mendorong warga lokal untuk membuka kulla atau ladang mereka sebagai rumah singgah untuk menambah penghasilan keluarga.

Kuatnya budaya menyambut tamu juga dirasakan di Desa Derjan. Hajrija Qerimi (91) mengenang masa kecilnya saat tumbuh di sebuah kulla besar. Kepada The Guardian, ia menceritakan bahwa ayahnya yang merupakan seorang petani selalu berpesan agar tidak ada tamu yang berkunjung tanpa disajikan makanan dan minuman terbaik.

Konsep Wisata Berkelanjutan dan Skala Kecil

Di Desa Dushaj, pemilik penginapan Kulla Hupi, Luli Hupi, memulihkan kulla miliknya secara bertahap dari hasil bekerja di pertambangan. Penginapan yang dibuka sejak 2021 ini menerapkan konsep pariwisata skala kecil dengan bekerja sama bersama lebih dari 10 keluarga lokal untuk menyuplai bahan makanan seperti daging, keju, madu, dan roti, sekaligus menjadi pemandu wisata. Hupi membatasi jumlah meja di restorannya demi mempertahankan suasana hangat dan privat bagi pengunjung.

Pendekatan serupa diterapkan oleh Labinot Murrja, pemilik Butterfly Camping di tepi Sungai Black Drin. Murrja membangun tiga kabin kayu kecil dan area perkemahan bersama ayahnya. Ia menegaskan kepada The Guardian bahwa usahanya difokuskan untuk memberikan pengalaman autentik menikmati alam dan kehidupan desa, bukan semata-mata mengejar keuntungan finansial.

Di tengah pesatnya lonjakan pariwisata di pesisir Albania yang memicu kekhawatiran warga akan pembangunan tak berkelanjutan, kehadiran jalur The Tower Trail menawarkan alternatif wisata pedalaman yang berbasis warisan budaya. Wisatawan yang ingin menginap di kulla tradisional dapat menyewa kamar untuk dua orang dengan tarif mulai dari sekitar 35 pound sterling per malam.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *