Travel News

Peringatan Perjalanan AS Menyusul Protes Sewa di Eropa

Peringatan Perjalanan AS Menyusul Protes Sewa di Eropa
Daftar Isi
  1. Pemicu Unjuk Rasa di Portugal
  2. Gelombang Protes Meluas di Berbagai Negara Eropa
  3. Panduan Keselamatan Bagi Wisatawan

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Lisbon mengeluarkan peringatan keamanan pada Minggu (1/11/2026) terkait kerusuhan sipil dan aksi unjuk rasa di Portugal yang diwarnai penanganan ketat kepolisian. Seperti dilaporkan Travel And Tour World, gelombang protes atas lonjakan biaya hidup dan harga sewa rumah yang tak terjangkau kini telah meluas ke berbagai kota besar di Eropa.

Pemicu Unjuk Rasa di Portugal

Kerusuhan di Portugal dipicu oleh tindakan kepolisian yang membubarkan tenda-tenda demonstran dari kelompok Casa para Viver dan Movimento pela Habitação di Praça do Rossio, Lisbon, serta Praça Dom João I di Porto pada akhir Oktober. Pembubaran tersebut menyulut perlawanan ratusan warga, mahasiswa, dan anggota serikat buruh yang berupaya merebut kembali area publik tersebut. Unit kepolisian huru-hara mengerahkan tameng, tongkat pemukul, dan gas air mata di kawasan komersial serta pemukiman, hingga mengganggu jalur bus, trem, dan pertokoan.

Krisis biaya hidup di Portugal tergolong parah. Antara tahun 2015 hingga 2025, harga beli hunian dan tarif sewa jangka panjang melonjak sekitar 147 persen, jauh melampaui rata-rata Uni Eropa yang sebesar 60,5 persen. Di sisi lain, upah minimum berada di kisaran 820 euro per bulan dan gaji bersih rata-rata tidak mencukupi untuk membayar biaya sewa yang telah meningkat dua kali lipat dalam tujuh tahun terakhir. Masuknya modal asing, insentif pajak bagi warga non-permanen, serta pesatnya ekspansi apartemen wisata singkat (Alojamento Local) menyingkirkan pekerja lokal dari kota-kota seperti Lisbon, Porto, Braga, dan Coimbra. Kelompok aktivis juga merencanakan aksi mogok kerja nasional pada 11 November 2026.

Gelombang Protes Meluas di Berbagai Negara Eropa

Krisis hunian dan biaya hidup yang tinggi memicu aksi serupa di beberapa negara Eropa lainnya:

  • Italia: Di Milan, Roma, Bologna, dan Florence, pekerja muda dan mahasiswa menghadapi tarif sewa kamar yang mencapai 700 hingga 900 euro per bulan di Milan. Pencabutan bantuan pendapatan Reddito di Cittadinanza dan lonjakan inflasi bahan pangan memicu gerakan Protesta delle Tende berupa pembentukan tenda-tenda di luar kampus. Serikat buruh CGIL dan USB menyatukan langkah dengan gerakan hunian, memicu gangguan pada layanan kereta api, penerbangan, dan bus kota.
  • Prancis: Konsumen di Paris, Marseille, dan Lyon tertekan oleh kenaikan tarif listrik, inflasi bahan pokok, serta kelangkaan hunian sewa. Aturan pembatasan sewa sering diakali pemilik properti dengan biaya tambahan. Serikat pekerja CGT dan FO mengerahkan ratusan ribu buruh untuk menuntut penyesuaian upah dan pajak lebih tinggi bagi perusahaan properti. Aksi di Paris kerap berujung penggunaan gas air mata dan meriam air oleh polisi.
  • Jerman: Lebih dari 50 persen warga Jerman dan 80 persen penduduk Berlin tinggal di rumah sewa. Anjloknya pembangunan hunian baru akibat tingginya suku bunga memperketat persaingan sewa. Gerakan Deutsche Wohnen & Co. Enteignen menuntut pengambilalihan portofolio properti perusahaan besar oleh publik, sementara pendudukan bangunan dan demonstrasi penolakan gentrifikasi marak di Berlin-Kreuzberg dan Leipzig-Connewitz.
  • Spanyol, Irlandia, Belanda, Yunani, dan Albania: Serikat penyewa di Spanyol menuntut penghentian lonjakan sewa yang menguras hingga 74 persen pendapatan pekerja. Di Irlandia, koalisi Raise the Roof memprotes pembelian perumahan oleh dana investasi asing di tengah krisis ketersediaan hunian. Sementara itu, masalah ketimpangan pasokan dan kenaikan tarif utilitas memicu unjuk rasa di Amsterdam, Rotterdam, Athena, dan Tirana.

Panduan Keselamatan Bagi Wisatawan

Guna mengantisipasi dampak gangguan akibat unjuk rasa dan mogok kerja, wisatawan diimbau mengambil beberapa langkah pencegahan:

  1. Menjauhi pusat demonstrasi utama seperti Praça do Rossio di Lisbon, Praça Dom João I di Porto, Place de la République di Paris, dan Piazza del Duomo di Roma, terutama pada sore dan akhir pekan.
  2. Menyiapkan waktu tambahan dua hingga tiga jam saat menuju bandara atau stasiun kereta guna mengantisipasi penutupan rute transportasi umum secara mendadak.
  3. Menyiapkan peta digital luring serta mencatat kontak darurat konsuler untuk mengantisipasi potensi gangguan jaringan seluler di tengah kerumunan massa.
  4. Mendaftar pada program Smart Traveler Enrollment Program (STEP) bagi warga AS untuk memperoleh pembaruan keamanan dan bantuan konsuler secara cepat.

Diperkirakan penyesuaian antara tingkat upah pekerja dan tingginya biaya hidup di Eropa masih membutuhkan waktu sebelum kondisi kembali seimbang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *