Media sosial dihebohkan dengan aksi pemukulan yang dilakukan oleh seorang penumpang terhadap seorang pramugara dalam penerbangan rute Lombok-Jakarta. Melalui akun media sosialnya, pramugara tersebut mengungkap bahwa pelaku merupakan seorang dokter spesialis penyakit dalam.
Identitas dan Permintaan Maaf Pelaku
Pramugara dengan akun Threads @exmanef membongkar identitas serta profesi penumpang tersebut usai membagikan kisah insiden yang berlangsung pada tanggal 25 Oktober 2026. Seperti dilaporkan detikTravel yang telah mendapat izin mengutip unggahan tersebut pada Rabu (28/10/2026), pramugara itu menyayangkan tindakan pelaku.
“Basically beliau adalah Dokter spesialis penyakit dalam. Yang mana harusnya lebih mengerti kode etik di lingkup publik dan membedakan mana benar dan salah,” tulis @exmanef.
Berdasarkan video yang tersebar pasca-kejadian, penumpang tersebut tampak menyampaikan permohonan maaf. Sebelum turun dari pesawat, penumpang itu disebut telah dimintai keterangan, mengakui kesalahannya, serta dikeluarkan dari penerbangan sehingga batal bertolak ke Jakarta.
Dampak Fisik dan Psikologis Korban
Pramugara yang menjadi korban menuturkan bahwa dirinya tidak berniat memperpanjang masalah hukum terkait insiden tersebut. Menurutnya, langkah itu hanya akan membuang waktu kerjanya dan memilih menyerahkan penilaian kepada warganet.
Kendati demikian, dia mengaku masih menanggung akibat secara fisik dan mental akibat kejadian itu. “Efek dari perbuatannya, saya selaku korban merasa sakit nyeri area perut dan saya TRAUMA,” tulisnya.
Korban sempat mencoba melakukan visum di sebuah rumah sakit di Palembang. Akan tetapi, karena harus bertolak kembali ke Jakarta pada malam harinya, dia berencana melanjutkan proses pemeriksaan ke bagian forensik.
Menutup unggahannya, dia memberikan imbauan kepada seluruh penumpang agar senantiasa menaati aturan serta mampu menjaga emosi selama berada dalam penerbangan. “Dear penumpang manapun, tolong ikuti aturan. Jangan sampai nasib anda seperti bapak ini, yang tidak diberangkatkan hanya karena bertindak tanpa berpikir dan tidak dapat mengendalikan emosi,” tulisnya.








