Travel News

Minta Penumpang Geser Kaki di Pesawat, Cerita Wanita Ini Viral

Minta Penumpang Geser Kaki di Pesawat, Cerita Wanita Ini Viral
Daftar Isi
  1. Reaksi Tegas Terhadap Praktik Manspreading
  2. Beragam Strategi Menghadapi Penumpang yang Memakan Ruang
  3. Konfrontasi dan Reaksi yang Kurang Menyenangkan
  4. Dilema Penumpang Bertubuh Tinggi dan Masalah Medis

Unggahan seorang wanita yang menegur penumpang pria karena memakan ruang kakinya dalam penerbangan selama 4,5 jam memicu perdebatan luas di internet mengenai etika dan batas ruang pribadi. Insiden yang diunggah di forum online Mumsnet tersebut mengangkat persoalan klasik tentang kenyamanan yang sering memicu konflik di antara pengguna transportasi publik, seperti dilaporkan Earth’s Attractions.

Reaksi Tegas Terhadap Praktik Manspreading

Pengguna bernama Floofydawg membagikan pengalamannya pada 14 Oktober 2026 dalam utas berjudul “Manspreaders – do you call them out?”. Saat naik ke pesawat, ia mendapati pria yang duduk di sebelahnya merenggangkan kaki hingga memakan sekitar separuh dari area ruang kakinya. Berharap pria tersebut akan membenarkan posisi duduknya saat ia masuk, Floofydawg justru menemukan penumpang itu tidak bergeming sama sekali.

Enggan menghabiskan seluruh penerbangan dalam kondisi terhimpit, ia memutuskan untuk menegur penumpang tersebut secara langsung. Istri pria itu sempat terkekeh karena menganggap teguran tersebut sebagai lelucon, tetapi sang pria akhirnya menggeser kakinya. Floofydawg menyampaikan tegurannya secara langsung: “please could you keep to your own space as I’m not spending this entire flight touching a complete stranger’s legs.”

Suami Floofydawg yang duduk di seberang lorong memberikan dukungan secara diam-diam. Dalam utas yang menarik 135 balasan tersebut, Floofydawg mengaku bangga pada dirinya sendiri karena biasanya ia enggan bersuara dalam situasi serupa. Ia mendorong penumpang lain untuk berani mempertahankan ruang yang telah mereka bayar, meskipun meminta seseorang berpindah posisi kerap kali terasa canggung.

Beragam Strategi Menghadapi Penumpang yang Memakan Ruang

Utas tersebut berkembang menjadi wadah pertukaran pengalaman di mana banyak netizen sepakat bahwa penumpang tidak boleh mengalah saat ruang pribadinya terganggu. Seorang pengguna menegaskan bahwa menegur penumpang lain secara sopan adalah hal yang wajar. Pengguna lain yang sering menggunakan bus mengaku tidak ragu meminta orang menyingkirkan tas dari kursi kosong agar bisa diduduki.

Beberapa pengguna juga membagikan cara non-verbal untuk merebut kembali ruang mereka. Seorang wanita bertubuh tinggi menceritakan bahwa ia secara bertahap mendorong kakinya balik ke arah kaki penumpang yang melanggar batas hingga orang tersebut sadar. Pengguna lain mengenang kejadian beberapa dekade lalu saat ia menumpangkan kakinya di atas kaki penumpang pria yang terus merambah ruangnya, yang seketika membuat pria tersebut menarik kakinya kembali dengan wajah kesal.

Taktik unik lainnya mencakup membawa banyak barang di sekitar area duduk, merajut dengan jarum panjang, menaruh tas tangan di atas lutut dekat kaki penumpang lain, hingga sengaja menonton video tentang manspreading di laptop dengan volume yang cukup terdengar sampai penumpang di sebelahnya merasa malu dan memilih pindah tempat.

Konfrontasi dan Reaksi yang Kurang Menyenangkan

Meski banyak yang berhasil mengatasi masalah secara damai, tidak sedikit penumpang yang mengalami respons negatif. Seorang wanita menceritakan pengalamannya dalam penerbangan musim dingin saat penumpang di sebelahnya mengenakan jaket tebal yang melebar ke area kursinya. Karena merasa sangat gerah, ia akhirnya berkata: “excuse me I’m menopausal. I am having hot flushes. If any part of you or your coat touches me I am going to melt down,” yang membuat penumpang pria tersebut langsung meminta maaf dan merapikan jaketnya.

Namun, tidak semua cerita berakhir baik. Seorang wanita menceritakan saat ia meminta pria di sebelahnya menggeser kaki dalam penerbangan ke Roma, pria itu justru menyuruhnya menyilang kaki agar sang pria mendapat ruang lebih luas. Di luar moda transportasi publik, seorang wanita mengaku pernah mendapatkan umpatan kasar berupa kalimat “Fuck off bitch” hanya karena menyarankan seorang pria berjalan memutarinya daripada menuntut dirinya yang harus mengalah memberi jalan.

Dilema Penumpang Bertubuh Tinggi dan Masalah Medis

Perdebatan di forum tersebut juga menyentuh persoalan penumpang yang bertubuh sangat tinggi atau memiliki kondisi medis tertentu. Seorang wanita mempertanyakan nasib suaminya yang memiliki tinggi sekitar 193 cm. Walaupun selalu berusaha memesan kursi dengan ruang kaki ekstra, penerbangan terkadang mengalami pergantian jenis pesawat ke ukuran yang lebih kecil sehingga fasilitas ruang ekstra tersebut mendadak hilang.

Sebagian netizen berargumen bahwa tinggi badan tidak memberikan hak bagi seseorang untuk mengambil ruang milik penumpang lain. Mereka menyarankan agar penumpang bertubuh tinggi memesan kursi lorong, membayar ruang kaki tambahan, atau membeli kursi ekstra. Di sisi lain, muncul pertanyaan etis apakah penumpang bertubuh besar harus selalu membayar lebih mahal, atau apakah pihak maskapai yang seharusnya menyediakan ruang yang lebih memadai bagi semua orang.

Selain faktor fisik, kondisi medis juga menjadi perhatian. Seorang pengguna menceritakan rasa malu yang dirasakannya setelah menegur seorang pria tua yang memakan ruang kakinya, yang ternyata memiliki masalah medis hingga kakinya bergerak involuntir dan harus menggunakan sepatu ortopedi tebal. Jika teguran langsung tidak membuahkan hasil atau situasi berisiko memicu konflik, para pengguna sepakat bahwa meminta bantuan awak kabin merupakan langkah terbaik untuk menyelesaikan perselisihan tempat duduk.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *